Bridal Shower ala Adventurer. Road Trip ke Bali Utara.

Ada teman-teman dekat yang saya dapat karena memiliki kesamaan hobby eksplor dan jalan-jalan. Atau hobi makan, atau hobi road trip. Atau nyambung aja gitu kalo ngobrol.

Ada nih temen saya yang namanya Dyandra yang panggilannya Ebby, yang saya kenal di kantor pertama saya di Jakarta yang semua hobby dan kesenangannya kurang lebih sama. Yang akhirnya tinggal bareng satu apartment di Jaksel bareng satu temen lainnya biar literrally jadi anak gaul Jaksel. Jan anda terkecoh dengan status kami tinggal di apt lalu kami punya banyak uang. Nggak samsek. Kami tinggal di apt bukan karena kaya raya dan punya gaji besar sebagai fresh graduate yang iya iya aja ditawarin gaji UMR. Tapi ada seorang malaikat yang kerja di HRD bernama Mba Etty yang minjemin unit apt 2 bedroomsnya dengan cuma-cuma pada kami. Katanya daripada bayar mahal ngekos di benhil dengan Ibu kos yang gualak dan banjir tiap Januari. Beliau minjemin aja gitu ke Eka temen saya dan Ebby yang ngajak kami berdua tinggal disana. Gratis. Cuma bayar maintenance sama listrik air. (I know we are the lucky biatch)

Balik ke Ebby. Kenapa kami kalo ngobrol nyambung? Ya gimana nggak nyambung, kalo di kantor yang lain ngomongin kerjaan kita mah ribut ngobrol liburan. Kalo disuruh ngerjain document marah-marah, giliran disuruh bikin plan department training ke luar kota langsung maju mimpin meeting. Booking pesawat, kereta atau hotel kami ahlinya. Kata bos kami, salah banget ni duo racun disuruh kerja di Bank, harusnya di tour and travel.

Anyway saya hanya survive 2 tahun di Bank itu, kalo Ebby berhasil survive 4 tahun disana. Waktu saya resign kami masih tinggal bareng dia dan Eka di apt Mba Etty. Bahkan buat mensupport keputusan temennya yang nekat ini, yang resign dan beralih profesi jadi penjual abon, Ebby dan Eka sering beliin beras sama telor biar temennya ini gak die di apartment karena kekurangan gizi.

Waktu saya memutuskan untuk resign dari Bank, otak saya kacaunya nggak karuan, nggak mau pulang kampung, nggak mau daftar kerjaan di institusi finansial lagi (padahal cuma ini experience yang saya punya), nggak mau kerja di Jakarta tapi nggak tau juga mau kemana. (Ini sebelum saya menemukan Bali). Pokoknya nggak tau apa-apa. Kalo kata orang-orang kena quarter life crisis.

Seperti sahabat baik hati lainnya yang paling mengerti kegalauan temennya yang lagi rewel tentang pilihan hidup. Ebby berinisiatif membawa saya ke puncak Krakatau di Selat Sunda sebagai hadiah ulang tahun saya. Di puncak kegalauan usia seperempat abad. Ceritanya saya tulis di postingan Only in the darkness you can see the stars (Cerita Sahabat dari Selat Sunda)

Ebby tahu, kadang hanya sebuah perjalanan yang bisa membantu saya tenang dan menetapkan pilihan dengan lebih bijaksana. Ebby tahu, perjalanan bersama sahabat adalah kado terbaik yang bisa diberikan siapapun kepada makhluk seperti saya.

Singkat cerita 3 tahun kemudian Ebby bertemu dengan jodohnya yang sekarang menjadi suaminya. Ia menikah tanggal 5 Desember lalu. Saya turut bahagia tentu saja sebagai sahabat baikknya.

***

Mundur satu bulan sebelum pernikahannya.

***

“Ki I’m coming to Bali” Tulisnya di pesan singkat WhatsApp pada suatu hari. Tanggal yang tertera di tiketnya adalah tanggal H+1 setelah hari pertunangannya. Seperti sahabat lain pada umumnya saya bertanya

“Hey are you OK?”

“I am. I want to meet you”

Walaupun menaruh curiga seperti orang-orang lain pada umumnya, karena dia memang anak yang mencurigakan. Tiba-tiba beli tiket ke Bali abis lamaran buat WFH selama beberapa minggu sebulan sebelum hari pernikahanya. Mencurigakan! Tapi seperti teman gila lainnya, saya support segala keputusannya tanpa perlu tahu apa alasannya.

Saya tetap saja happy banget disamperin ke Bali sama partner in crime. Karena persahabatan kami dalam 3 tahun ini berkisar tentang kemana saja saya lari atau bersembunyi, disitu Ebby akan pergi nyamperin. Begitupula sebaliknya, tiap patah hati dimanapun Ebby berada kesanalah tiket yang saya beli untuk menemuinya. She even had plan to go to Ausi before. Tapi keburu Corona. Anyway even tho terpisah benua atau pulau sekalipun, kami bergantung satu sama lain. Untuk opini terkait segala permasalahan hidup. Walaupun opini kami berdua kadang absurd buat dijalankan, but we both know, entah untuk situasi apapun yang membingungkan kami butuh opini absurd satu sama lain. Karena cuma Ebby yang nggak pernah takut temenan sama saya yang kadang gila. Ide segila apapun masuk akal di kepalanya. Begitu juga sebaliknya. Masalah sekecil apapun atau sebesar apapun pun nggak pernah buat dia merasa punya hak untuk men judge saya atau orang lain yang bermasalah dengan saya. All she would do to calm me down is just taking me far to give me space to think. Cause I would do the same.

No one knows me better than her.

Ketika Ebby datang ke Bali, saya sedang tinggal di Ubud. Di sebuah villa di dekat Tegalalang. Villa ditepi sawah yang disewakan murah oleh pemiliknya yang bernama Pak Wayan. Ceritanya saya lagi belajar hidup zen, tanpa banyak distraksi dari dunia luar. Semua social media saya matikan. Idupnya cuma ke pasar, masak, kerja di Dharma cafe, beli sate lilit, pulang rumah, lari sore, renang, baca, tidur. Kadang ikut kelas Yoga bareng mamanya temen yang cuma bayar 20 ribu satu sesi. Somehow i feel fulfilled. Tentu saja sambil video calls Ebby tiap hari.

Sejak Ebby datang tentu saja hidup saya makin enak di Ubud. Look, being alone in Ubud was awesome, but being in Ubud with Ebby was perfect. Kami langsung saja main-main nggak jelas tiap hari. Tentu tiap pagi-sore kami harus kerja online, sambil mengeksplor tempat-tempat di Ubud yang enak buat kerja. Kopi-kopi yang enak dan tempat spa yang enak dan lagi diskon gede-gedean karena lagi corona. Teteup opportunis

Pada suatu hari kami disuruh nganter Shella kawan saya ke Bandara karena dia mau ke Jakarta yang akhirnya nggak jadi. Jadilah Shella sewakan mobil buat kami buat ambil-ambil barang di Dalung juga. Saya langsung ngide buat road trip mumpung ada mobil. And I loveee road trip. Pengalaman road trip saya sebenernya cuma satu, nyetir dari Sydney ke Melbourne selama 9 jam. And it was awesome, I mean driving south sambil berhenti di tiap KFC di kota-kota kecil antara Sydney-Melbourne was sooo fun. Singing out loud in the car. Saya akui justru dari perjalanan itu lebih menyenangkan waktu di perjalanannya daripada di Melbournenya sendiri. 🙂

So I told Ebby “Bi let’s do road trip here in Bali”

Selama Ebby di Bali, kami meminjam mobil Pak Wayan pemilik Villa yang baik hati 2 kali. Pertama untuk antar Shella yang ujung-ujungnya kami pakai muter-muter Bali. Dari Kintamani, Kuta, sampai Padang Bai. Seperti road trip saya dari Sydney ke Melbourne pada tahun sebelumnya. It was not about the place we were visiting, tapi ambiencenya. Teman seperjalannnya, lagu-lagu yang kami putar, barisan pemandangan di luar jendela yang bikin speechless, dan angin pantai Timur Bali yang sepoi sepoi. Dan sesekali perasaan fulfilled ketika saya berada di belakang kendali, taking a full control of my life or where I want to go. It was amazing.

Satu hari sebelum kepulangan Ebby kami menyewa mobil Pak Wayan lagi. Innova putih baru yang bensinnya irit parah. Karena hari itu toh saya harus mengantar Ebby ke kosan Shella di Sanur biar dia lebih dekat ke Bandara besok buat pulang, kenapa nggak sekalian road trip lagi yakaannn. So here we go again another road trip for us.

“Bit everyone else giving a bridal shower in a fancy restaurant or hotel room, but I’m giving you a full road trip to North Bali for your bridal shower, how fun is that”

“Yeay let’s go”

And the road trip begin.

Tujuan roadtrip kali ini adalah Nung Nung Waterfalls yang ada di Belok/Sidang, Petang, Badung Regency, Bali. Air terjun ini direkomendasikan oleh Roman, tetangga saya di Ubud yang berasal dari Ukraine yang sudah tinggal di Bali selama 3 tahun. Yang sepertinya lebih hafal Bali daripada turis lokal. Kami mengikuti sarannya, karena ia bilang jaraknya hanya 1 jam dari Ubud, toh kami juga akan pergi ke Bedugul setelahnya.

Perjalanan ke Nung Nung Waterfalls seperti yang Roman bilang hanya memakan waktu satu jam. Pemandangan yang disuguhkan lebih ke desa-desa kecil Bali dengan banyak janur disana sini. Tapi jangan khawatir kalau berangkat pagi dan belum sarapan, ada banyak warung-warung pinggir jalan yang menyediakan jajanan. Kami sendiri akhirnya berhenti buat makan di warung JFC (Jaya Fried Chicken) yang femes di Bali karena John Legend joget joget sama bininya disini itulo.

Selama perjalanan entah kenapa saya pengin dengerin lagu Shakira yang “Try everything” soundracknya zootopia. Lalu saya ngide “Bit let’s play lagu-lagu Disney”

Begitulah berputar-putar selama perjalanan ke Nung-Nung Waterfalls lagu Moana, Frozen, hingga Mulan. Entah mengapa saya merasa selalu ada keterkaitan antara lagu-lagu Disney dengan hidup saya. Perempuan rebel yang sering menantang dirinya sendiri “How far she’ll go”

Waktu saya lagi haha hihi nyanyi lagu Frozen tiba-tiba ketika saya nengok ke bangku kemudi disitulah Ebby nyetir sambil nangis merebes mili.

The wind is howling like this swirling storm inside
Couldn’t keep it in, heaven knows I’ve tried
Don’t let them in, don’t let them see
Be the good girl you always have to be
Conceal, don’t feel, don’t let them know
Well, now they know

Let it go, let it go
Can’t hold it back anymore
Let it go, let it go

As a good friend, i let her sing and i let her cry without too many questions.

Menikah adalah komitmen besar bagi semua orang, bagi perempuan perempuan berjiwa petualang sensasinya tentu berbeda. Saya yakin ketika itu Ebby mungkin merasa bahwa kehidupannya akan berubah 180 derajat karena ia memutuskan untuk settle down. Somehow ia memilih untuk melepaskan kehidupan lajangnya yang penuh tantangan dan kesenangan. I understand I do.

Somehow she feels like she’ll give up the version of her that likes adventure.

Sampai di Nung-Nung Waterfalls yang mengharuskan kami menuruni 500 tangga yang terjal. Saya biarkan ia sendiri di depan air terjun. Air mukanya basah, entah terkena percikan air terjun, entah karena air matanya.

“Bit let it all go” Bisik saya

Anyway kami melihat pelangi sebelum sampai di air terjun. Walaupun ketika balik ke atas dan menaiki 500 tangga itu rasanya bikin turun bero. Kami harus istirahat 4 kali karena kehabisan napas saking terjal dan jauhnya itu tangga, but the view was worth it. I would do it all again. Kami melanjutkan perjalanan ke Bedugul untuk ngopi di lantai dua alfamart yang menghadap ke danau Beratan hanya untuk menyeruput kopi seharga 5000 rupiah. Lalu menghabiskan hari di pantai Seminyak untuk melihat sunset. Lagi-lagi saya biarkan ia menjauh ke bibir pantai dan berdiskusi sendiri dengan dirinya.

Btw she’s a happily married now. She couldn’t stop smiling at her wedding.

Keraguan selalu ada di diri saya dan Ebby. Tentang pilihan hidup, tentang pasangan, tentang pendidikan. Karena itu kami selalu merasa cocok berdiskusi bersama satu sama lain. Sejak memutuskan untuk resign dari Bank, selama 3 tahun ini hidup saya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Melakukan satu hal absurd dan hal lainnya. For the sake of an adventure. But I do too have a lot of bad experiences along the way of course, but bad experiences still an experience. No?. I rebel. Meanwhile my bestfried Ebby selalu ada disana mendengarkan setiap cerita saya, di sangkarnya dengan hidupnya yang ia bilang lurus-lurus saja. Mengikuti setiap ekspektasi masyarakat yang disordorkan padanya. Sementara menurutnya, temannya yang ia katakan berani dalam hidup ini, ada di ujung dunia memilih hidup penuh tantangan untuk dirinya seorang diri. Ia pun ingin suatu hari menjadi berani seperti saya.

Ia pernah berkata bahwa suatu hari ia ingin pindah ke luar negeri dan menjajal hidup disana. But she thinks that she didn’t have enough courage to make it true. But she did. Bagi saya dia adalah seorang yang punya banyak courage untuk menjadi dirinya yang sekarang. Untuk stay dan menjadi orang yang Ibunya harapakan tanpa menyerah sedikitpun akan mimpinya. Atau kesenangannya. Diam-diam saya pun kagum padanya. Bekerja sambil menyelesaikan masternya, mengurus pernikahan, naik gunung, lari ribuan kilometer, sambil masih saja terus mengurusi temannya di ujung dunia dengan permasalahannya yang itu-itu saja. Lalu berani untuk jatuh cinta dan berkomitmen. Bit in my eyes you are the brave one. Braver than me indeed.

Orang-orang yang melihat hidup saya menyangka kalau saya adalah si pemberani. Yang berani melakukan ini itu sendirian. Pergi kesana kemari tanpa perduli apapun juga. Marah-marah ke orang karena merasa direndahkan. But look at a bit closer, i was actually the girl that always scare. Scare to settle down in one place, scare to face her fear in her hometown, or even scare to let people in and fall in love. Or even scare of a little bit of attachment. I’m scare with a lot of thing. So no bit, you’re not surrender with your life. You brave enough to choose everything in your life now and I’m so damn proud of you. And little did you know, I also want to be brave like you too. But not now, not today. But I’m heading that way.

“Bit I know sometimes we think we made wrong decision. Especially when we see other people’s life. I know sometimes we doubt our own choices. And I know being adventurer is also a choice we made a long time ago. A choice that made us cross each other’s path and stick here. But falling in love with someone who doesn’t like adventure as much as you do doesn’t mean that you have to stop being one. It just means that now you have new company to explore more things. Show him the world you always see. And you’re in love bi, that’s beautiful, that’s rare, that’s what matters. Was that all we’ve been talking about on top of that mountain, or in that fisherman fishing boats in Sunda Strait right?. When we’re wondering would it be nice to have someone you love in your journey. And now you found one. It’s not a farewell bit to the adventure, it’s just a beginning of new journey. And if you see me here, on my own journey, by myself like I was 3 years ago. Having adventure on my own, anywhere I want to go. You won’t feel jealous or even sorry for me. Cause I’m exactly where I needed to be. Cause I believe everyone and everything have their own phase in their life. And It’s mine, and I’m Oke. I got lonely sometimes of course, but you’re just one call away, and you make everything better. And I’m too, only one flight away. Cause you always be there and I’m here and we’ll continue to have adventure together. So it’s okey. You’re Ok. We’re Ok. OK. And you have made the right decision”

Wishing you a lifetime of happiness my dear friend

Ebby.

I’ll see you in another road trip with another disney playlist

But this time you and I will smiling instead of crying

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

One thought on “Bridal Shower ala Adventurer. Road Trip ke Bali Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: