STAY WEIRD! :Advice from Asheville, North Carolina

Sudah lama nggak nulis blog, sibuk recover dari series of mental breakdown yang nggak beres-beres. Hha. Tapi bukan hanya karena itu saja, beberapa bulan lalu keyboard leptop saya rusak dan harus di service untungnya gratis karena kerusakannya termasuk kesalahan pabrik.

Anyway saya akhirnya berhasil mengumpulkan tenaga untuk menuliskan target 3 bulan lagi di notes merah maroon berdebu di pojok ruangan yang udah jarang tersentuh. Buku yang emang sengaja dibeli untuk nulisin target 3 bulan hingga 3 tahun. Biar keep on track niatnyaa. Ide ini saya dapet waktu baca buku #MILLENIALINVESTOR yang ditulis oleh Priscilla Siregar dan temannya. Si Cilla ini adalah temen les IELTS dan temen belajar di perpus kalo sabtu minggu jaman kami masih jadi pejuang LPDP di Jakarta. Bangga si dia udah nulis buku panduan money management untuk kaum milinial dari pengamalannya sendiri.

Bukunya recommended banget untuk kaum milenial yang mau mulai belajar memanage keuangannya sekaligus belajar untuk disiplin ngikutin target yang udah di buat sendiri. Target yang saya tulis sendiri ada beberapa kategori, dari target finansial, sampai cita-cita dan obsesi untuk nerbitin buku yang nggak kesampean-kesampean dari dulu. Belummm ya. Salah satu hal yang saya janjikan pada diri sendiri adalah untuk kembali menulis cerita travelling saya di blog ini minimal sebulan sekali (kalo bisa si lebih dari satu). Jadi pembaca yang budiman, doakan saya bisa komit dengan target yang sudah saya buat sendiri di buku maroon ini ya.

So here it goes! Cerita traveling saya hampir 3 tahun lalu.

Cerita di Ashville, Agustus 2019

Agustus tahun 2019 lalu ketika saya pergi ke US untuk mengunjungi sahabat saya, Amy, di New York. Yang ceritanya saya tulis di postingan Once Upon a Time in New York. Saya juga sempat pergi ke Asheville kota di bagian barat Blue Ridge Mountain di North Carolina. Sekitar 2 jam naik pesawat ke arah selatan dari New Jersey. Kota yang bahkan nggak pernah saya browsing sebelumnya dan nggak tau bahkan dimana letaknya di peta US. Keputusan semena-mena yang saya buat karena liat harga tiket pesawat antar state di US ternyata beda tipis dari Indo. Sekitar 40$-60$ nggak perlu sampe jual ginjal untuk main ke state lain. Jadi ya ayo MANGKAT!

Pertanyaannya: Kok bisa memilih kota ini yang so random. Bukannya ke L.A atau San Francisco yang udah terkenal di pelm pelm Hollywood yang suka ditonton. Tapi Asheville tetap pilihanku. Why?

Jadi ceritanya gini….

Minum dulu tehnya biar ga aus..panjang soalnya

Waktu di Sydney ada seorang perempuan yang menghubungi saya via aplikasi couchsurfing. Aplikasi ini adalah sebuah software yang sangat berguna untuk para budget traveler dalam mencari tempat tinggal, temen, sekalian host gratis. Yaa semacem cari tempat untuk numpang tidur gitu di sofa warga lokal. Saya nggak terlalu sering pakai app ini. Cuma saya punya pengalaman waktu di Jerman dulu pernah tinggal bersama keluarga yang membuka rumahnya untuk para traveler yang datang ke Jerman melalui aplikasi couchsurfing. Sebenarnya saya tinggal disana bukan karena ketemu Ibunya di aplikasi ini. Tapi justru karena kawan kuliah saya Retno kenal dengan Georg anaknya si ibu yang punya app ini. Georg ini teman belajar bahasa Retno yang nawarin saya dan Novia teman traveling saya dulu buat stay di rumah ibunya, ya gitu emang kadang saya merasa idup saya dilingkupi keberuntungan. Banyak yang nampung disana sini. Ibu Georg kebetulan memang membuka rumahnya untuk para traveler. Cerita lengkap trip saya ke Jerman bisa di baca di sini : Tidur di Ruang Bawah Tanah di Erftstadt, Germany.

Okey lanjot. Waktu di Sydney saya juga sebenernya belum pernah nge host atau membuka rumah untuk traveler dari app couchsurfing karena selalu tinggal ramean sekamar biar hemat dan nggak punya kamar private. Atau tinggal di apartment yang berisi sedikit orang yang sama-sama membuka rumah untuk couchsurfer. Hingga tiba-tiba seorang perempuan asal Amerika mengirim saya pesan di aplikasi couchsurfing. Ia adalah seorang mahasiswi di US yang lagi ambil master dan belajar tentang mental health. Namanya Jenna. Nah si Jenna ini lagi solo traveling selama 3 bulan ke Asia Tenggara, Australia dan New Zealand.

Saat itu teman sekamar saya Gina dan Gia kebetulan lagi pergi liburan ke Korea dan Jepang jadi saya accept saja request si Jenna ini untuk stay di apartment kami di Lindfield. She seems smart and fun. Apalagi mengetahui Jena sedang belajar mental health saya jadi semakin tertarik untuk berdiskusi dengannya.

Tahun sebelumnya jujur saja keadaan mental saya jauh dari kata sehat. Berasa sekarat malah pada satu titik. Ada sebuah trauma baru yang sulit sekali saya sembuhkan walaupun sudah coba berbagai cara. Dari berolahraga gila-gilaan dan mendistraksi diri dengan kerja keras bagai kuda di Sydney. Sampai pada akhirnya saya harus mengakui kalau sudah saatnya saya mengakui kalau saya membutuhkan bantuan tenaga profesional untuk proses healing. Saya memutuskan untuk menjalani terapi dengan psikiater via BetterHelp.

Seorang terapis memberi diagnosa kalau saya memang sudah mulai depresi dan menawarkan untuk menuliskan resep untuk saya tebus. Ia meminta saya untuk mengkonsumsi anti depresant. Karena beberapa bulan terakhir saya kesulitan untuk tidur dan menangis setiap malam. Sebenarnya sudah dua kali saya memiliki suicidal thoughs. Tapi itu dulu sekali dan trauma baru ini walaupun meresahkan tapi somehow masih bisa saya kontrol. Saya tak serta merta mengikuti saran psikiater ini untuk mengkonsumsi anti depressant, dan mencoba mencari second opinion. Psikiater lain lebih menganjurkan untuk mencoba teknik mindfullness untuk mengurangi stress dan anxiety. Walaupun tetap saja sulit juga untuk diterapkan. Tapi saran dari terapis ini saya lakukan setiap hari yang bener juga membuat saya merasa sedikit lebih baik dari waktu ke waktu. Waktu itu saking sulitnya untuk istirahat di malam hari, setiap mau tidur saya juga mencoba sleep meditation biar bisa istirahat barang sebentar.

Kembali ke cerita Jena. Akhirnya selama liburan di Sydney, Jena menginap di apartment saya di Lindfield selama lima hari. Kami berdiskusi banyak mengenai perjalanan hidup dan trauma masa lalu yang ternyata bukan hanya saya saja yang mengalami kesulitan dalam memelihara kesehatan mental di jaman now ini. Jenna pun sedang mengalami masalah yang tak jauh berbeda dari saya dan para kaula muda lainnya, putus cinta dan nggak merasa belong. Sampai ia akhirnya memutuskan untuk mengambil jeda dari hidupnya dan melakukan solo trip selama 3 bulan penuh. Belajar untuk memahami dan lebih dekat dengan dirinya sendiri melalui perjalanan.

“Almost everyone in our age questioning our life, you are in the right time and age to feel this way” katanya kepada saya ketika kami berbincang panjang lebar di sudut cafe Pishon di stasiun Chatswood malam sebelum keberangkatannya ke Fiji. Intinya saya memang gila, tapi saya nggak gila sendirian.

“I’m gonna go back to US from Sydney after my 3 months solo trip, I’ll see you again before I go back to US and tell you about my trip and what I learn from it, Okey?”

Begitu saja kami menjadi kawan baik hingga saat ini. Ia juga berpesan kalau suatu hari saya pergi ke US, saya harus mengunjunginya di Asheville, tempatnya tinggal dan belajar.

Ketika Jenna kembali Sydney setelah tripnya berakhir, hari itu ternyata juga adalah hari keberangkatan saya ke New York. Kami tak sempat bertemu di Sydney karena saya harus mengejar pesawat malam ketika Jenna baru tiba di Sydney. Jadi rencananya kami ubah. Bukan Jenna yang datang ke Sydney untuk menceritakan perjalanannya selama 3 bulan tapi saya yang datang ke rumah Jenna di Asheville untuk menagih janjinya untuk menceritakan perjalanannya selama 3 bulan di New Zealand dan Asia Tenggara. Begitu lah asal muasal saya nyasar di North Carolina. Untuk menagih cerita Jenna.

***

New York – New Jersey – Charlotte – Hickory – Asheville

Dari New York saya harus terbang ke kota Charlotte di North Carolina naik spirit Airline, budget airlinenya US. Tapi kali ini saya nggak terbang melalui bandara JFK di New York. Melainkan dari bandara Newark Liberty International Airport di New Jersey. Dari New York ke New Jersey juga nggak terlalu jauh kalo naik kereta, hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Tapi untung suami Amy, sahabat saya di NY baiknyaaaaaaa nggak ketolongan. Saya dianterin pagi-pagi ke New Jersey biar nggak perlu naik subway dan train. Rejeki anak soleh kalo kata orang-orang.

Penerbangan dari bandara Newark ke Charlotte, North Carolina hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Tapi dari Charlotte ke Asheville saya harus naik shuttle yang harganya lebih mahal ternyata pemirsah daripada harga tiket pesawatnya sendiri (85 dollar USD yassalam). Bentuk shuttle nya kayak travel Bandung-Jakarta di Indo dan cuma butuh waktu 2 jam juga untuk sampe Asheville. Jadi kalo digabung total waktu tempuh dari New York ke Ashville sekitar 4 jaman. Sebenernya ada juga opsi transportasi yang lebih murah dari Charlotte ke Asheville yaitu dengan naik bus Greyhound. Harganya cuma sekitar 20 dollar, tapi jarak dan waktu tempunya lebih panjang daripada shuttle. Kalo naik bus saya harus ikhlas berada di dalam bus sekitar 8 jam. Karena rute bus ini muter lebih jauh dan harus singgah ke Atlanta, Georgia terlebih dahulu. Karena saya bukan pecinta transit, jadilah saya pilih naik shuttle karena lebih cepat sampe dan lebih nyaman.

Demi mengunjungi Jenna akhirnya saya rela naik shuttle bernama Hickory Hop yang ternyata di dalam mobil itu cuma ada 2 penumpang aja. Nyaman juga batin saya. Sebelum sampai ke Asheville kami berhenti di kota kecil bernama Hickory dan parkir di sebuah bandara kecil Hickory. Bandara yang buat saya senyam senyum sendiri karena di dalamnya museum, menarique! Setelah menunggu sekitar 10 menit dan belum sempet muterin museum kami jalan lagi menuju ke Asheville.

Waktu sampai di pemberhentian shuttle terakhir di Asheville, dari dalam mobil saya sudah bisa liat Jenna nongkrong nungguin saya di parkiran. Wahh happy banget saya akhirnya bisa ketemu Jenna di Asheville, nggak nyangka juga. Di Asheville, saya nggak nginap di apartment Jenna, tapi kami menginap di rumah kawan Jenna, Edward, yang sedang pergi ke rumah orang tuanya di luar kota. Sebuah rumah berlantai dua yang berwarna ungu dengan porch dan front yard yang cantik sekali. Segala perabotan tua di rumah tersebut membuat saya teringat model rumah-rumah di film desperate housewife yang sering saya tonton dulu. OMG My American Dream House.

Mengapa kami dipersilakan untuk tinggal di rumah cakep ini selama 3 malam penuh? Karena kami pun harus memberi makan 3 anjingnya selama pemilikinya pergi. Anjing yang emesh-emesh itu. Boleh makan semua bahan makanan yang ada di dapur juga. I’m a lucky biatch or what?

Asheville adalah sebuah kota kecil yang menghargai seni. Di downtown banyak toko-toko yang mejual kerajinan tangan dari penduduk lokal kota ini. Seperti handmade anting, pahatan, tas, hingga kerajinan dari tanah liat. Kata Jenna semua barang handmade dari masyarakatnya lebih dihargai daripada segala sesuatu yang berbau mass production. Karena alasan itu barang-barang handmade ini bernilai jual yang cukup tinggi. Sebagai upayanya untuk memberi support terhadap product lokal juga. Ada banyak sekali art Gallery di pinggiran kota ini yang berisi lukisan-lukisan dan berbagai kerajinan dari kaca.

Saya jatuh cinta dengan berbagai macam handmade earnings yang dijual di toko-toko di downtown. Cantik-cantik sekali. Setiap ukirannya seperti mempunyai ciri khas dan keunikannya sendiri. Meskipun akhirnya saya hanya mampu beli satu anting paling murah yang harganya 20 dollar. Tapi worth it. Keluar dari toko ada mbak-mbak pinggir jalan yang nyaut.

“Omg, i love your earrings , you look great on it, where did you get that” dengan aksen kental Amerikanya

“Thank you, just bought them around the corner, that shop, you should have one too” balas saya

“I will honey, I’m going there now, have a wonderful day”

“You too”

Wow batin saya. Small town vibe. Orangnya ramah-ramah sekali.

Di Asheville petani lokal sangat dihargai, setiap seminggu sekali ada farmers market di sebuah lapangan parkir di pinggiran kota. Para warga lokal yang punya kebun di rumahnya, menjual berbagai macam buah dan sayuran di tenda-tenda kecil yang sudah disediakan. Warga disini, termasuk Jenna selalu membeli buah dan sayuran di tempat ini seminggu sekali karena warga Asheville memang berdedikasi tinggi dalam mensupport warga lokal untuk hidup lebih sustainable. Untuk berbelanja orang-orang juga perlu menukarkan uangnya dengan koin kayu yang sudah disediakan.

Saya benar-benar menikmati kegiatan berbelanja saya di Farmers Market selama di Asheville.

Tidak seperti di New York yang lebih banyak menjual makanan cepat saji, di Asheville justru sebaliknya. Saya tak melihat ada restaurant cepat saji di downtown, disini justru ada banyak sekali vegetarian restaurant. Selain warganya sudah aware dengan issu kesehatan, mereka juga perduli dengan isu global warming. Di restaurant restaurant ini pun menerapkan beberapa aturan sustainable practice. Selama saya disana pun saya lebih banyak makan vegetarian food yang ternyata sedap juga karena Jenna juga nggak banyak makan daging. Melihat kecenderungan selera makan saya belakangan ini yang lebih menikmati sayuran daripada daging merah, kalo dipikir-pikir lagi sepertinya kecenderungan ini dimulai dari latihan makan sayuran saya di Ashville yang masih terbawa sampai sekarang.

Di kota ini juga ada banyak komunitas Yoga dan Acupuncture yang ada di pinggiran-pinggiran kota. Saya dan Jenna datang ke sebuah komunitas Yoga yang bayarnya boleh seikhlasnya. Nggak bayar juga boleh. Saya nanya ke Jenna kok bisa gitu. Katanya guru-guru Yoga baru ini harus ngumpulin hours of teaching yoga baru bisa dikasih licence atau sertifikat saya lupa untuk mengajar yoga secara profesional. Karena itu yang datang ke tempat ini boleh seikhlasnya bayarnya. Di dalamnya juga ada toko baju bekas yang dijual for the purpose of ‘going green’. Walaupun bayar seikhlasnya, guru yoga di kelas yang saya ikuti itu termasuk one of the best yoga class yang pernah saya ikuti. Ada satu hal yang disampaikan oleh yoga teacher itu saya ingat di akhir sesi Yoga di Asheville.

“If you’re tired doing everything you can to let go, maybe instead of letting go, you can try to let it be. Like water in a glass with sand inside of it. If you keep stirring the water hoping the sand will magically out of the glass. it will not happen, it will makes it cloudy. So why don’t you keep still and let it be. The sand will be settled on the bottom of the glass and the water will be clear. So let it be”

Pada akhir sesi perempuan itu mengucapkan Metta Prayer

May all beings be happy and free. May all beings be well. May all beings be safe. May all beings be peaceful and at ease. Namaste.

Right in that very moment, I knew that this is the reason I went to Asheville. For this very particular moment.

Setelah mengikuti kelas yoga, saya diajak Jenna untuk mencoba Acupunture. Kalo ini saya yang minta. To face my fear of needles. Sebenernya nggak anti-anti banget sama jarum. Cuma ide mencoba pengobatan tradisional dengan nusukin jarum ke seluruh badan demi mengurangi stress seru juga kayaknya. Lagi-lagi di sini kami boleh bayar seikhlasnya, tapi karena saya baru pertama kali kesana jadi saya harus bayar 35$. Dan taraaaa walaupun jarumnya ditusuk dari ujung pala sampe ujung kaki ternyata nggak sesakit itu. Efeknya, belum kerasa si masih B aja, tapi mungkin karena baru sekali. Tapi intinya that day I conquered my fear of having a bunch of needles all over my body! Itu aja. Mantab. Proud of you Ki!

***

Karena di Asheville saya nggak liburan, tapi visiting a friend. Jadi kegiatan saya ya ngintilin Jenna dari pagi sampe malem. Kalau dia harus ke kampus, saya biasanya duduk di cafe & bakery lokal yang konsepnya simple yet chick. Duduk di bawah pohon having my morning latte and croissant sambil nulis notes sampe Jenna balik kampus. Sorenya kami suka duduk di toko buku lokal yang ada cafe nya juga. Buku-buku yang dipajang kebanyakan tentang pembahasan sejarah hingga perjuangan orang hitam di Amerika memperjuangkan kesetaraan dan menghapus white supremacy. Di jendela kecil dan di dalam toko buku poster #Blacklivesmatter dipasang dimana-mana.

Saya merasa menemukan kota yang berbeda dari yang lainnya. Orang-orang dengan dandanan yang authentic di downtown. Tapi kota ini juga adalah kota yang memperjuangkan hidup yang berkesinambungan, karena orang-orangnya mencintai alamnya, kreatifitas warganya, orang-orang dengan ras berbeda, hingga memperjuangkan kaum yang masih di inferiorkan. Betapa kerennya batin saya.

Sebuah gravity bertulisan Stay Weird terlihat jelas setiap kami melewati Robert Street di parkiran restaurant dan studio. Menurut Jenna, warga Asheville menghargai keunikan masing-masing orang yang memilih hidup dengan caranya sendiri. Karena itu di kota ini pekerjaan warganya tidak banyak yang berhubungan dengan pemerintahan atau pekerjaan yang sering saya lihat di Jakarta. Tapi mereka memilih untuk mmebuka studio lukisan, pahatan, menjadi musisi, membuat anting dan pernak pernik, berkebun dan menjual hasil panennya, membuka kedai ice cream kecil atau family bakery. Segala hal yang mereka buat dan gunakan sendiri. Keep being weird kata Jenna. Mungkin mantra ini membuat orang-orang Asheville percaya akan keunikan orang masing-masing dan menjadikannya sebagai strength instead of weakness. Untuk dighargai apapun penampilan, ras, dan cara hidupnya. Bahkan kalau boleh saya bilang hal ini membuat orang-orang Asheville untuk jauh dari kata greedy dan saling menjaga sesama manusia dan alam.

You can be anything you want, as weird as you can. But first, be human.

***

Jenna mengenalkan saya kepada teman-teman kampusnya bernama Sam dan Clensey. Couple yang ramahnya nggak ketolongan. Kami duduk di salah satu toko ice cream kecil di pinggiran Ashville. Jenna dan Sam entah mengapa berdiskusi serius tentang mengapa Jenna menolak uang dari Edward karena membantunya menjaga anjingnya. Seru sekali diskusinya sampe bawa-bawa teori kuliahnya. Saya dan Clensey ngobrol sendiri tentang alasan saya ke pergi ke US yang selain ingin bertemu dengan sahabat kecil saya, Amy di New York saya juga ingin merawat diri. Karena salah satu cara untuk mengenal diri lebih dekat bagi saya adalah dengan melakukan solo traveling. Dan sebagai practice untuk self love juga kata saya kepada Clensey. This is me giving reward for myself because I have survived from a hell last year.

“Aww that’s great, maybe you should buy yourself a ring and marry yourself. To remind you how much you love yourself”

Kata Clensey menanggapi cerita saya dengan wajah berbinar-binar. Kami tertawa. Membeli cincin untuk diri sendiri sebagai simbol self love is actually a cool idea. So in the future when someone would treat me like shit I could just see my ring and say HELL you don’t get to treat me that way I love me this much. I’m leaving!

Saran Clensey yang agak absurd ini akhirnya saya lakukan ketika saya pergi ke Montreal. Cerita selengkapnya nanti saya ceritakan di post berikutnya ya.

“Angky you should call me when you come to Asheville again, or Jenna or Sam or Edward, you are always welcome here” kata Clensey sambil memeluk saya sebelum kami berpisah malam itu. What a nice feeling having this privilege to meet these friendly people. Asheville is not my favourite place in US to be honest, but i will definitely come back to Asheville someday to meet my favourite people here in US.

Pada malam-malam terakhir sebelum saya kembali ke New York, Jenna mengajak saya untuk menonton live music di downtown. Kami memasuki sebuah bar kecil berisi barisan meja yang menghadap ke stage kecil di ujung ruangan. Sekitar lima orang musisi sibuk menyiapkan instrument musiknya di panggung. Seorang wanita menghampiri kami di pintu masuk dan menanyakan ID Card. Saya tentu saja lupa bawa karena saya pikir live musiknya ada di Cafe.

“She is 27 and doesn’t drink alcohol” kata Jenna meyakinkan wanita itu untuk mengizinkan saya masuk dan menonton live music.

“Oke but I need to mark her hand so nobody serve her alcohol”

“Deal”

Wanita itu kemudian mengeluarkan pulpen dari kantongnya dan menggambar tanda X di punggung tangan saya. Sebagai caranya untuk memberi tahu seluruh staff bar kalo anak ini dilarang pesan alcohol.

Kami berdua pesan teh untuk menonton live music. Hal baru yang saya temukan adalah teh yang dipesan Jenna adalah CBD Tea

Menurut https://www.cbdteas.net CBD tea is a blend of cannabidiol and herbs and/or tea leaves. Both hemp and marijuana are part of the family of plants called cannabis. Cannabis plants boast about 100 different chemicals called cannabinoids. Hemp plants contain high levels of the chemical CBD, which is non-psychoactive.

Yap I took a sip of course for the sake of once in a lifetime experience. Menurut Jenna minuman ekstrak dari cannabis ini bukan dibuat untuk bikin nge fly atau jadi high pas dikonsumsi, tapi justru bikin rileks dan nggak tense. Which is true, I never feel more relax in my entire life. Tapi kayaknya CBD ini nggak bikin terlalu addictive seperti marijuana ya. Btw ini teh legal dan ada dimana-mana di kota ini. Yahhh buat pengalaman nggak papa ya. Then we enjoyed the rest of the night with live music lalu pulang ke rumah.

Hari terakhir saya di Asheville Jenna tanya “Ki would you like to do something else in Asheville before you go back to New York” Beberapa hari di Asheville sangat berkesan bagi saya. Dengan Jenna perempuan yang saya temui di Sydney 3 bulan sebelumnya. Kami banyak pergi minum kopi di toko buku dan berbincang tentang perjalananya di Asia Tenggara atau rencana solo trip saya ke Canada beberapa minggu lagi. Kehidupan di Sydney dan perjalanan ke New York. Kuliahya di Asheville. Pelajaran yang kami dapat di solo trip masing-masing. Bagi saya it is rare to find a good friend di perjalanan, but it’s even more rare to find a good friend yang gets you dan understand your journey, physically and emotionally. And I am beyond grateful memiliki kesempatan untuk bertemu Jenna dan mengunjungi kotanya.

“Yes I want to go to that parking lot to see that Stay Weird sign, and just sit in French Broad River”

Duduk di tepian Frech Broad River yang dengan pemandangan pepohonan yang masih hijau dan udara yang masih bersih. Melihat seorang Bapak mengajari anaknya memancing was enough for me.

Right in that very moment I felt like I have everything I need and have nothing to lose.

Thank You Asheville for the lesson to keep on being weird and human at the same time 🙂

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

2 thoughts on “STAY WEIRD! :Advice from Asheville, North Carolina

Leave a Reply to Jurnal Kurma Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: