My remedy (Road Trip Turkey 2021, part 1)

Kalian pernah nggak sih punya temen deket yang paling cocok buat diajak travelling kemana aja?

Satu-satunya orang yang selalu bilang YES sama ajakan nge-trip hemat, kapan saja, ke segala tempat dan medan. Orang pertama yang kalian pikirinin kalo tiba-tiba pengin road trip atau bahkan manjat gunung. Yang nggak keberatan tidur sempit-sempitan sambil jongkok di dalem kapal nelayan atau jalan naik turun 450 anak tangga cuma buat liat air terjun di Bali Utara. Yang juga nggak keberatan disamperin dan diculik dimana aja kalo kalian lagi patah hati cuma buat makan duren di Lembang.

Saya punya satu biji temen yang bukan cuma enak banget dijadikan teman curhat yang nggak judgemental tapi juga asik pake banget buat diajak ngetrip. Namanya Ebby! Beberapa cerita nge trip kami saya tulis di postingan Only in the darkness you can see the stars (Cerita Sahabat dari Selat Sunda) dan Bridal Shower ala Adventurer. Road Trip ke Bali Utara.

Bulan Desember lalu si parter bolang ini menikah dan sebulan kemudian langsung kirim foto test pack dengan hasil positive. Saya tentu saja ikut bahagia kalo si Ebitron ini akhirnya menemukan pasangan yang cocok untuk membangun bahtera rumah tangga dan bentar lagi mau punya little Ebby. Tapi di sisi lain, saya juga sedih karena partner ngebolang saya barangkali untuk beberapa waktu kedepan belum bisa diajak ngetrip dan lompat-lompatan di atap perahu nelayan di Selat Sunda.

***

Sebuah notifikasi muncul di hp saya. Dari Rika sahabatnya Ebby. Tiga tahun lalu saya sengaja terbang dari Bali ke Bandung cuma untuk curhat ke Ebby yang kebetulan lagi ikut marathon 5k di kota kembang itu. Sesampainya di Bandung saya dikenalin sama Rika, sahabat Ebby dari kecil yang juga ikutan lari. Perempuan berambut hitam pajang yang ternyata hobinya juga sebelas dua belas sama saya dan Ebby, suka eksplore gitu lo. Rika ini sebenarnya justru lebih ekspert kalo soal naik gunung daripada saya dan Ebby. Kami yang ngakunya anak gunung tapi kalo disuruh fire dril, naik turun tangga kantor dulu, suka ngosngosan lalu menyalahkan umur. Kalau Rika justru hampir semua gunung di Indonesia pernah ia daki. Bangga nggak? Walaupun saya cuma dikenalin sama Ebby dan baru satu kali ketemu sama Rika, saya merasa ini anak berpotensi menjadi konco kenthel curhat-curhat gemes sekaligus temen ngebolang.

Anyway, Rika sebagai sahabat Ebby dari kecil yang juga mengaggap anak ini adalah mukjizat dari Tuhan (gampang diajak jalan kemana aja) merasakan hal yang sama seperti saya. Waktu Ebby menikah kami berdua galau masal dan menjadi hilang arah karena merasa kehilangan temen yang selalu bilang iya kalo mau traveling hemat, dadakan di medan yang absurd. Bukan kehilangan si, tapi menurut pengakuan teman-teman saya yang sudah menikah, sekarang setiap keputusan yang akan mereka ambil harus dipikir dan diputuskan oleh dua kepala. Termasuk didalamnya rencana traveling bareng teman. Sekarang Ebby harus lebih bijak berdiskusi dengan suaminya kalau mau pergi ngebolang. Nggak bisa seperti dulu main pergi aja semena-mena tanpa diskusi dengan pasangan.

Karena merasa sama-sama kehilangan partner jalan yang tinggal culik, saya dan Rika jadi makin kompak. Intinya ditengah kebingungan ditinggal menikah oleh sahabat tukang jalan, kami sama-sama menemukan. Kami malah jadi sering ajak-ajakan kalo punya plan buat nge trip. Pesan-pesan yang sering saya kirim ke nomor wa Ebby berubah tujuan menjadi ke nomor wa Rika. Begitupula dengan Rika.

“Rik Toraja yuk!”

“Ki aku cuti 4 hari, aku ke Bali ya!”

“Rik gw dapet tiket promo!”

Bulan Februari lalu ketika saya baru saja pulang kampung dan sampai di Bali lagi, Rika mengirim pesan singkat.

“Turki yuk” yang tentu saja tanpa pikir panjang langsung saya balas

“Let’s go!”

***

Bagi orang-orang seperti saya, Rika dan Ebby yang mencintai perjalanan, berpetualang bukan sekedar kegiatan eksplorasi tempat baru di wilayah yang masih asing. Tetapi sebuah perjalanan juga dapat menjadi obat yang ampuh dalam menumbuhkan harapan, menyembuhkan serta merawat kewarasan diri kembali. Apalagi setelah teror ketidakpastian tahun lalu yang telah sukses meluluh lantakkan berbagai macam rencana dan juga harapan. Sebuah perjalanan diharapkan dapat menjadi remedy dari segala macam kekecewaan dan ketidakpastian selama ini. Dibukanya perbatasan Turki untuk kegiatan pariwisata di masa pandemi ini tentu saja adalah sebuah jawaban dari doa-doa kami.

Turki adalah salah satu dari sedikit negara yang membuka bordernya untuk kegiatan pariwisata di masa pandemi ini. Dibukanya border Turki dan izin dari pemerintah Indonesia untuk pergi ke negara tersebut adalah sebuah kesepakatan antara dua negara untuk sama-sama belajar mengaplikasikan cara yang lebih aman agar kegiatan pariwisata bisa tetap dilakukan di tengah pandemi. Tentu saja segala upaya dan peraturan untuk mengurangi resiko penyebaran virus telah diberlakukan. Perjalanan juga dapat dilakukan ketika semua pihak telah memahami serta menerima semua resiko dan konsekuensi yang ada.

Tahun lalu di tengah frustasi dan hilang harap diam-diam saya mulai mengumpulkan dana traveling lagi. Walaupun saat itu rasanya dunia butuh waktu yang lama untuk sembuh dan normal kembali. Saat itu jangankan untuk terbang ke luar negeri, beli ciki ke RT sebelah aja ndak boleh karena lagi lockdown. Tapi saya ternyata masih sedikit semangat menabung kalau-kalau ada kesempatan traveling suatu hari nanti. Setelah menabung dengan khusyuk sambil mengkarantina diri, akhirnya mimpi saya untuk traveling lagi kesampaian. Bukan hanya mimpi terbang lagi ke luar negeri kesampaian, tapi kami juga mendapat tiket promo ke Turki dari Qatar Airways. Kami hanya bayar 900 ribu rupiah untuk tiket pulang pergi per orang dari Jakarta ke Istanbul dan Istanbul ke Jakarta.

Hah kok bisya? Kepo ya pasti!

Jadi ceritanya gini, Qatar Airways memberikan promo #ThankYouHeroes yang membolehkan calon penumpangnya yang berprofesi sebagai tenaga medis terutama dokter untuk membayar tiket seharga 10% dari harga tiket aslinya. Tapi itu juga harus daftar dulu. Program ini adalah bentuk apresiasi dari Qatar Airways karena mereka sudah berjuang di lini terdepan untuk melawan pandemi corona. Nahhh kebetulan si Rika ini profesinya Dokter. Jadilah dia dapat promo tiket itu dan dia bisa ajak satu teman dengan membayar harga yang sama. Dan dia ajak saya, horeeee! Intinya kami berdua cuma bayar 1.8 juta untuk tiket 2 orang ke Istanbul. Lucky us!

Liburan di masa pandemi ini sedikit berbeda dari liburan biasa. Selain berkewajiban untuk melakukan swab test sebelum terbang ke negara tujuan, sebelum berangkat kami juga harus mempersiapkan ekstra protection dari masker dan handsanitiser yang harus selalu ada di tas demi mengikuti protokol kesehatan. Selain itu sekembalinya kami di Indonesia kami juga harus menjalani karantina selama 5 hari di hotel/wisma atlet. Selama karantina kami juga harus di swab 2 kali untuk memastikan kami negative corona. Pokoknya total di swab 4 kali untuk trip kali ini.

***

Dari 1-10 nilai negara yang patut untuk dikunjungi traveler hemat seperti saya. Saya memberi Turki nilai 9. Kenapa? Karena sebelumnya saya nggak pernah tahu kalau ada negara di Eurasia yang bentang alamnya sangat menawan dengan harga yang sangat affordable. Dari harga akomodasi, transportasi hingga makanan. Saya berasa bisa menikmati liburan ala Eropa dengan tetap membayar harga seperti di Asia. Bahkan kalo bisa saya bilang harga-harga makanan restaurant dan hotel di negara ini jauh lebih murah daripada harga-harga di Jakarta. Nggak percaya? Saya akan beberkan satu-satu fakta-fakta unik tentang Turki yang bikin saya terkejoot. Tapi bukan hanya urusan harga yang terjangkau. Negara transkontinental yang beribukota di Ankara ini juga kaya akan sejarah dan budaya yang nikmat banget untuk dijelajahi satu-satu melalui bangunan-bangunan peninggalannya yang ada di berbagai kota di sini. Udah nggak usah basa-basi lagi, bersama saya reporter abal-abal Angky Ridayana, mari kita simak bersama kemantapan Turki dari acara jejak petualang Angky Rika di Turki selama 11 hari.

Sewa mobil untuk road trip

Di Turki, Rika punya teman yang lagi kuliah tourism di sebuah kota bernama Konya. Namanya Farhan yang kebetulan berprofesi sebagai tour guide dan bersedia kami culik untuk road trip bareng keliling Turki. Yesss betcul, kami memilih untuk menyusuri Turki melalui jalur darat karena selain lebih hemat, cara ini juga dirasa lebih aman dan fun di masa corona ini. Kami menyewa sebuah mobil manual untuk 11 hari perjalanan. Yang membuat saya terkejut adalah harga persewaan mobil di Turki ternyata lebih murah dari Bali. Harga yang kami bayar untuk menyewa mobil sedan manual merek Peugeot 301 untuk sebelas hari hanya 121,88 Euro sekitar 2,1 juta rupiah (190 ribu rupiah per hari). Ini mobil juga bukan mobil ecek-ecek, kami justru dikasih pinjem mobil baru tahun 2021 yang kilometernya masih sedikit, mulus pake banget. Kalo yang automatic kayaknya sampe 160 Euro untuk sebelas hari. Btw kami juga beli asuransi mobil yang harganya sekitar 95 Euro yang bikin kami nggak harus bayar apa-apa kalau misalnya ada yang terjadi dengan ni mobil. Tapi asuransi ini sifatnya optional, kalau nggak pake juga nggak papa. Untuk website sewa mobil yang kami pakai waktu itu bisa dicek di : www.pandoracarhire.com.tr

Letak setir mobil di Turki seperti di negara Eropa lainnya, ada di sebelah kiri. Walaupun awalnya kagok kalau yang biasa nyetir di Indo di sebelah kanan, kata Farhan hanya butuh waktu 10 menit saja agar terbiasa nyetir di kiri. Setelah saya coba menyetir ternyata perkataan Farhun benar adanya. Walaupun awalnya tangan reflek nge geplak jendela tiap mau ganti gigi tapi setelah 10 menit terbiasa juga. Anyway nggak perlu buat sim International untuk nyetir disana, kalo punya bagus, tapi kalo nggak punya pakai sim A juga sebenernya cukup karena di sim A kita ada keterangan driving licensenya.

Gini kira-kira penampakan mobilnya. (Bonus gambar walang keket yang menclok di kapnya)

Jalur Road Trip

Jalur road trip selama 11 hari yang kami pilih menurut saran dari Farhun seorang tour guide professional dan Rika yang rajin menonton Youtube adalah sebagai berikut.

Istabul – Safranbolu – Ankara – Konya – Kappadokya – Ercİyes Ski Resort – Antalya – Fethiye – Kaş – Denizli- İzmir- Pamukkale – Ephesus – Alaçatı- Bursa – Istanbul

Kok banyak kaka? Iya dong, kan tujuan road trip adalah bisa muterin banyak kota dan daerah di Turki. Dari Barat, tengah, timur, selatan. Kira-kira gini penampakan rutenya.

I love road trip. There is something about road tripping that is liberating. Behind the wheel deciding when or where you want to go. Stop whenever you want to stop. No train schedule, no need to catch a flight, nothing. Just drive and drive and drive and drive.

Apalagi kalau jalannya bareng teman-teman yang sanada dan seirama. Lengkap sudah. In my case, temen road trip itu wajib untuk suka karaokean dan punya play list yang sama. Kalau yang satu suka nyanyi yang satu nggak atau beda aliran musik bisa jadi kenikmatan road trip akan sedikit berkurang. (Teori ala-ala). Teori ini nggak berlaku untuk semua orang, ada juga yang nggak masalah kalo teman road tripnya suka nyanyi dan dia lebih suka diam. Tapi saran saya kalo mau road trip berhari-hari lebih baik cari teman yang agak nyambung dan candaanya sama. Soalnya kenyambungan adalah koentji. Sebelum konflik menyerang dan cakar-cakaran atau yang lebih parah diem dieman dalam mobil melanda.

Trip Turki adalah road trip paling sukses yang pernah saya lakukan. Karena bukan cuma playlist dan hobi karaoke saya Rika dan Farhun sama, tapi jokes yang kita keluarkan pun sama juga.

Kalau boleh jujur juga, kenapa saya merekomendasikan banget ini negara untuk di road trippin. Bentang alamnya boss, nggak boong. Shockingly amazing. Saya beberapa kali road trip di Australia dari Northern ke Western, East Coast, dari Sydney ke Melbourne, belum ada yang seheboh alam di Turki. Di US pun saya pernah naik bus 10 jam melewati perbatasan Canada, atau dari Belgia ke Jerman yang kalau dibandingin tetap aja Turki yang jadi juaranya! P.s: Ini cuma berdasarkan pengalaman saya saja. Mungkin kalau besok-besok saya dapet kesempatan road trip di negara lain saya bisa merubah pendapat saya. Tapi so far bener nggak boong ini negara amazing banget. Bisa nyetir satu jam melewati salju lebat di perbukitan, tau-tau pemandangan berubah jadi hijau semua, lalu oren, lalu biru. Behenti di setiap kota tua penuh masjid cakep-cakep buat mengunjungi makan Rumi, ke lake tersembunyi yang airnya jernih banget, ke deretan perkebunan cherry, laut biru turquoise di selatan yang sepanjang jalan yang bikin nggak kedip. Akhir bulan Maret ketika kami mengunjungi Turki sebetulnya sudah memasuki musim semi, tapi saat itu salju masih banyak banget, yang lebih uniknya lagi, fenomena ini dibarengi dengan tumbuhnya cherry blossoms di beberapa tempat. Saya dan Rika yang norak ini kegirangan tiap kali lagi nyetir tiba-tiba turun salju lalu lari-lari keliling pohon kek film India. Pokoknya mantulitawati!

Nih poto-poto gemeznya.

Ayer Meyhanesi di Antalya

Selain tukang teriak-teriak dalem mobil, saya, Rika dan Farhan juga tukang makan. Bukan hanya tukang makan, Farhan juga tukang masak yang sudah diakui rasa masakannya oleh warga Indonesia di Turki. Bahkan doi sering disuruh masak di acara-acara KJRI karena katanya pak Dubes doyan masakan bocah ini. Bangga bet gils.

Karena Farhan udah paling lama tinggal di Turki, dia yang lebih sering merekomendasikan restaurant dan tempat makan yang oke. Menunya nggak jauh-jauh dari Kebab, Gozleme, Baklava, sama keju kejuan buat sarapan. Walaupun sama-sama doyan makan banyak, selera kita kadang berbeda. Saya nggak suka makanan manis dengan banyak gula tapi doyan banget makan tomat. Farhan suka banget manis-manisan dan jeruk-jerukan. Rika nggak suka makan daging kambing tapi pemakan segala jenis keju. Saking lamanya barengan terus di jalan, tiap di restaurant seperti sudah terprogram di otak kami kalau ada tomat digeser kedepan saya, kalau ada jeruk digeser ke Farhan kalau ada keju digeser ke Rika. Bukannya kami nggak suka makanan yang disuka dua orang lainnya, tapi rasanya entah kenapa setelah beberapa hari bersama lebih menyenangkan nonton Rika makan keju dan Farhan makan jeruk daripada makan sendiri. Aww road trip bound!

Ada sebuah restaurant yang kami datangi di Antalya, kota yang berada di sepanjang garis pantai Mediterania. Salah satu kota favorit saya. Nama restaurannya adalah Ayer Meyhanesi, catet! Ini enak banget sungguh, kalo kata yucuber di mukbang “Mo meninggoy”. Lokasinya ada di old town nya Antalya yang cantiknya luar biasa. Deretan restaurant dan bar yang berjejer cantik. Saya jadi ingat kota tua di Quebec, Kanada waktu menyusuri barisan restaurant di kota tua di Turki ini. Bedanya harga makanan dan minuman disini jauh lebih masuk akal daripada di Kanada yang tiap buka menu langsung auto-istighfar. Harga makanan di Ayer Meyhanesi masih bisa dibilang terjangkau dengan fasilitas dan rasa yang di dapat menurut saya si worth it banget. Bukan cuma tempatnya cantik, dengan nuansa Santorini, biru putih, dan pool di tengah restaurant, pelayanannya juga ramah banget. Bahkan kami dikasih beberapa makanan gratis seperti Kopi Turki dan buah-buahan. Nggak ini bukan endorse, honest review sunnguh.

Makanan favorit saya selama di Turki cuma satu. Garlic Butter Shrimp. Sekali makan ini di Antalya seterusnya pesan menu yang sama di kota lainnya. Semacam kecanduan. Kata Farhan sebenernya gampang dibuatnya. Nggak terlalu banyak bahan dan cara yang aneh-aneh. Coba di Google dan dibuat sendiri di rumah buat papa mama atau ayang beb. Yuk bisa yukkk!

Monks Valley di Kapadokia.

Sebenarnya datang ke Kapadokia aja udah buat saya kejang saking bagusnya. Nggak pernah saya datang ke sebuah kota dan nggak selesai-selesai kagumnya. Bisa ya kota bentuknya unik gitu. Bangunan dengan formasi kerucutnya yang berkerumunan di Monks Valley ini bikin saya keinget rumah-rumah semut yang ada di belakang rumah Mbah dulu. Dilihat dari bawah aja pemandanganya udah luar biasa cantik, apalagi kalau kalian naik ke view point. Wadaw emezing.

Saya dan Rika dapet kesempatan buat nyobain naik balon udaranya. Lagi-lagi alhamdulilah dapet paket M. Paket misqueen. Harganya lumayan pricey. Tapi hmmmm nggak papa pulang-pulang puasa sebulan, karena Yassalaammm cakep bangett. Saya langsung berasa jadi Sherina di video klip balon udara nyanyi nyanyi syantix.

“Langit biru, awan putih, terbentang indah lukisan yang kuasa. Kumelayang, di udara, terbang dengan balon udarakuuuuu. Oh sungguh senangnya lintasi bumi, ooh indahnya dunia”

gitu.

Di Kapadokia kami menyewa sebuah kamar di cave hotel bernama Ascension Cave Suites. Biar berasa di cave gitu. Harganya buat kamar yang ada dua ruangan dan 2 bed, yang satu Queen size yang satu single buat Farhun, Rp.525.000 pake sarapan buffet dengan pemandangan balon udara. Lebih murah daripada di Bali kalo bisa saya bilang. Walaupun murah dan pemandangan bagus, kamar kami berada di lantai paling bawah. Jadi dekat dengan central heater yang bikin kamarnya panas bukan main kek hell. Ada AC, tapi karena belum masuk summer jadi AC nya nggak boleh dinyalain. Rika yang memang suka di tempat panas fine-fine aja. Katanya ini normal temperaturnya. Saya yang masih sodaraan sama Elsa dari Frozen harus keluar tiap malem duduk di depan hotel pake kaos dan celana pendek di temp -3 derajat celcius sampe menggigil dulu baru masuk ke dalem dan tidur.

Hal yang paling saya senangi ketika di Kapadokia jujur saja bukan waktu kami naik balon udara. Tapi ketika suatu pagi kami bangun untuk hiking valley valley terjalnya itu. Rika memutuskan untuk pake kebaya merah untuk menghormati Kartini dan semua perempuan kuat di seluruh penjuru dunia. Bukan pemandangan valley di Kapadokia yang buat saya senyum-senyum sendiri. Tapi liat Rika naik turun bukit dengan lincahnya pake kebaya yang buat saya mesam-mesem. I recently sent a video of her running in a steep valley and said

“If anyone ever makes you forget how brave and strong you are, watch this video again”

Saya diam-diam berdoa untuk kebahagian Ebby dan berterimakasih padanya. Karena bukan hanya temen lompat-lompatan di atas kapal nelayan tengah malem yang saya punya sekarang, saya juga punya tambahan teman yang suka lompat-lompatan pake kebaya di lembah-lembah terjal. Bukan hanya mereka mau nemenin saya lompat-lompatan di alam nyata tapi mereka mereka ini juga yang mau duduk dengerin saya curhat sambil nyeruput ice latte kalau giliran emosi saya yang suka lompat-lompatan seenaknya.

And finding these special friends who can do both is a blessing.

By the way guys, masih banyak banget cerita road trip di Turki ini, tapi sekarang sudah malam ikan bobo. Besok-besok saya lanjutin lagi ya untuk part 2 nyaa… In the meantime… Have a gooddd night!!!

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

4 thoughts on “My remedy (Road Trip Turkey 2021, part 1)

Leave a Reply to Angky Ridayana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: