Selamat bersatu kembali.

2007.

Saya terduduk diam di depan rumah Fatih. Di antara para pelayat lainnya saya mencari-cari sosok Hani, pacar Fatih yang dulu sering mengajak kami semua datang ke rumah ini untuk menjenguk Fatih. Hani belum datang, ia masih ada di kota sebelah untuk menjalani bakti sosial. Anak ini memang periang, bukan hanya wajahnya yang selalu tersenyum dan lembut. Tapi hatinya pun tak kalah lembutnya. Segala macam kegiatan bakti sosial selalu menarik minatnya. Tidak seperti saya si anak pecicilan yang lebih senang ikut tim futsal di sekolah.

Dua minggu lalu, saya dan teman-teman datang ke rumah ini, untuk menjenguk Fatih yang sudah absent selama lebih dari satu bulan. Kanker yang beberapa bulan ini menggerogoti lidahnya semakin membesar. Terakhir kali saya bertemu dengannya, ia sudah tidak bisa berbicara dan harus makan lewat sedotan. Makanannya harus diblender agar bisa ia telan. Fatih adalah salah satu anak pintar di sekolah, ayahnya juga seorang guru di sekolah kami. Kelasnya dan Hani ada disebelah kelas saya. Dari taman sekolah saya sering melihat Fatih dan Hani duduk berdua di depan kelas, bercanda satu sama lain. Selama sakit, Fatih ada di rumahnya. Ibunya sering bercerita bahwa Hani kerap kali menelfon ke rumah mereka, walaupun ia tahu, Fatih tak bisa lagi berbicara dan menjawab ceritanya. Ia biasanya hanya akan mendengarkan Hani berbicara atau bahkan membacakan ayat suci Al-Quran lewat sambungan telfon.

Di deretan bangku pelayat, saya masih duduk tak bersuara. Malam itu Puput menjemput saya di rumah untuk pergi ke rumah Fatih bersama. Untuk mengucapkan selamat jalan pada sosok pendiam dan baik ini. Saya masih duduk sambil menata nafas saya yang masih tersenggal. Di dalam rumah Fatih, Bu Rusmini guru bahasa Inggris yang duduk di sebelah jenazah baru saja membuka kain penutup jenazah Fatih agar kami teman-temannya bisa mengucapkan salam perpisahan. Badannya lebih kurus dari terakhir kami bertemu. Tapi ia terlihat lebih tenang dan damai. Mata saya masih tertuju ke pintu masuk rumah Fatih, ketika seorang perempuan duduk di sebelah saya. Hani duduk disana, diam tanpa air mata. Seorang perempuan lain duduk disampingnya dan memegang pundaknya.

Tangis saya pecah melihat sosok Hani yang terlihat lebih tegar. Hanya satu kata yang bisa terucap dari mulut saya kala itu. “Han….” Tangan saya mengusap-usap punggungnya, ia melirik ke arah saya. Mencoba tegar. Ia kemudian berdiri dan masuk ke dalam rumah Fatih.

***

“Ki mau ikut nggak ke makam Fatih?” tanya Hani dengan senyumnya yang manis. “Hari ini Fatih ulang tahun, aku pengin cabutin rumput di makamnya, ikut yuk” ajaknya ke arah kelas saya.

“Yukk” kata saya cepat. Hari itu, saya, Hani, Wulan dan Indri pergi ke makam almarhum Fatih. Sudah satu bulan Fatih pergi.

Makam Fatih basah, semalaman hujan mengguyur kota kami. Lumpur menempel ke sepatu kami ketika kami jalan di tanah sekitar makam Fatih. Hani mengajak kami untuk membantunya mencabuti ilalang yang mulai tumbuh di sekitar makam pacarnya. Tangannya lincah membersihkan tanah kuburan Fatih dengan cepat. Ia kemudian pergi ke luar makam dan kembali dengan membawa sebuah tanaman kecil yang baru saja ia cerabut dari tanah.

“Lagi musim hujan, takut tanahnya longsor” katanya sambil menanam pohon itu ke atas makam Fatih. Wajahnya masih tersenyum. “Yuk kita doain Fatih”

Dengan kedua tangan yang masih dipenuhi lumpur, Hani mulai memimpin kami untuk mendoakan Fatih. Dalam hati saya berfikir.

This what true love must looks like

I’m glad they found each other while Fatih was still here.

****

Saya sedang menscroll feed instagram ketika saya menemukan foto Hani dengan seorang lelaki. Ia mengumumkan pernikahannya yang baru saja dilangsungkannya. Saya tersenyum lebar. Sudah lama kami tidak bertemu, terakhir pergi bersama mungkin ketika ulang tahun Fatih dan mencabuti rumput di makamnya. Tapi saya selalu mengikuti kehidupannya dari postingan instagramnya. Kami memang tidak dekat, tapi saya selalu ingat sosoknya yang lembut. Dalam hati saya mengucap syukur. Anak ini akhirnya menemukan kembali lelaki yang baik setelah Fatih. After what she’s been through, she deserved the best in life. Fatih pasti juga bahagia melihat Hani menemukan kebahagiaanya yang sekarang.

***

Sore ini saya sedang duduk bersama Puput di daerah Canggu. Ia baru datang siang ini untuk bekerja di Bali. Kami sedang berbicara mengenai rencana kedepan. Rencana yang kerap di interupsi oleh covid. Saya menyeruput sisa es teh di gelas di tangan saya sambil membalas whatsapp dari sepupu saya yang mengabarkan bahwa adiknya positive covid di kampung. Covid memang sedang ganas-ganasnya. Baru tiga haru lalu kawan saya Rika juga mengabarkan bahwa ia sedang isoman karena ia juga positive covid. Di rumah sakit tempatnya bekerja pun pasien covid semakin bertambah setiap harinya.

“Ki, Hani, teman SMA kita baru saja meninggal”

Mata saya masih menatap layar ponsel. Tidak percaya.

“Haninya Fatih?”

“Iya”

****

My heath skipped a bit for you Hani. I still remember your face when you were sitting next to me on your boyfriend’s funeral. I still remember how strong you were that night, even stronger than me. I remember our last trip to Fatih’s graveyard and how you told me that i had to be there cause it was his birthday. I remember me and Wulan were looking at a picture, of you and Fatih when you guys were studying Math in Wulan’s house. How in love you both were. And how in love you both are now. All I can think about when Dea told me that you were gone was the picture of you walking to Fatih and you both sit in a long wooden chair in front of your class under the sign X-7. I can see that now, i can see it clearly now. It isn’t easy to lose you both this soon, but it’s a relief to finally know that you and Fatih are now together again. Side to side. Happy reunion in heaven, Hani and Fatih.

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: