UN/SURE Book

Selamat Tahun Baru 2022. Gimana tahun baru kalian, seru apa masih pada sibuk di lockdown sama pemerintah?

Jangan tanya tahun baruan saya kek gimana. Tentu masih seperti tahun lalu. Dimana jam 9 sudah bobok. Padahal rencananya tahun ini sudah berniat setidaknya bakalan tetap melek sampai jam 12 malem. Tujuannya biar kek orang-orang bisa countdown ke 2022 lalu bersuka cita dan menangis bahagia. Tapi apa boleh dikata, tubuh ini tak bisa diajak kerjasama. Tepat pukul 10 aku sudah tertidur pulas.

Terkadang saya berfikir, apakah ini rasanya beranjak dewasa. Tubuh tak lagi bisa energic seperti dulu. Penurunan stamina buat saya pribadi memang jelas terasa ketika usia saya sudah mepet-mepet ke angka 30?

Beneran deh beberapa tahun belakangan setiap saya pulang dari nge-trip, rasa capeknya berkali kali lipat. Saya yang tadinya hanya butuh satu hari untuk recovery, sekarang butuh kurang lebih 4 hari cuma buat tidur, bangun, makan, tidur, bangun lagi sampai bisa berfungsi kembali seperti manusia normal pada umumnya.

FYI pada liburan akhir tahun kemarin, saya baru saja nyobain train ride pake AMTRAK. Sebuah perusahaan penyedia jasa kereta api di Amerika. Pengin kek Harry Potter gitu loh, naik kereta ke Hogwarts sambil melewati pegunungan bersalju bersama kawan-kawan se-per-Gryfindorannya. Btw, bener nggak sih ada scene si Harry dkk naik kereta ngelewatin salju? Apa beda film?

Anyway, rute awal yang seharusnya saya tempuh dengan kereta AMTRAK adalah bermula dari uzung San Francisco, California ke Chicago, Illinois yang harusnya memakan waktu 52 jam atau dua hari lebih 4 jam. Tetapi saya gagal menjalankan misi trip kali ini. Karena apa boleh buat, setelah bertahan berada di dalam kereta selama 34 jam, punggung saya yang tak lagi muda ini mulai meronta-ronta. Pada akhirnya saya terpaksa harus turun di pertengahan jalan, walaupun sayang tiket masih setengah jalan. Saya harus rela dan ikhlas memotong perjalanan kali ini dan turun di Denver, Colorado untuk kemudian melanjutkan perjalanan via udara menuju New York.

Jangan salah sangka gais, ini bukan trip luxurious naik kereta enak-enakan bisa tiduran di dalem gerbong cem orkay yang seling muncul di berbagai film Hollywood. Sebagai duta traveling hemat, saya tetap berdedikasi untuk tetap setia dalam mencari paket M (Misqueen) dalam berkelana. Saya cuma beli tiket coach yang harganya 1/4 dari harga private room dengan alasan ‘Kan sama aja bisa liat pemandangannya’. Tapi kalo kata orang emang gegara faktor U (umur) yang membuat punggung saya yang udah uzur ini mulai lelah dengan tabiat paket M. Anyway, cerita ini akan saya bahas tuntas di postingan berikutnya tentang train ride from West Coast to East Coast.

Kembali ke leptop. Tadi kita lagi ngeghibahin tentang usia saya yang bentar lagi jadi kepala 3, lebih tepatnya 4 bulan lagi. Sebenernya zuzur saya mah biasa saja dengan pergantian umur menjadi 30 tahun dan saying goodbye to my wonderful 20s. Eaa. Alhamdulillah sisteur, kuping saya juga udah rada budeg diomongin tetangga-tetangga yang kelewat sayang sama saya.

“Udah mau umur 30 kok masih pecicilan sana sini bukannya menikah”.

Ah Rosalinda, kagak capek ape mulut lu nyinyir, udah 2022 masih aje ngurusin hidup orang.

Buat saya pribadi, saya nggak pernah mematok usia untuk nikah. Nikah kan sakral ya, ngapain diburu-buru. Kalau jodohnya ada dan sama-sama sudah siap mah, sok atuh kang eneng dipinang. Tapi kalau memang belum ada dan belum waktunya yasudah nikmati saja dulu hidupmu kawan. Lagian tante masih aje ribet ngurusin idup saya. Ibu saya sendiri saja sudah ikhlas anaknya begini tabiatnya. *walaupundalamhatimenanges.

Lantas, apa yang kamu takutkan dengan pergantian angka didepan umurmu pada tahun ini woman?

Jujur saja, tadinya saya nggak pernah mikirin hal semacam ini sampai beberapa hari belakang. Hari ini saya fix mengalami mental breakdown layaknya anak Gen-Z yang lagi OTW ngerasain serangan quarter life crisis. Alasannya sesimple karena kebanyakan liat postingan Zaskia Sungkar di IG. (Jahat banget Ya Allah, Zaskia nggak tau apa-apa disalah-salahin)

Sebenernya saya sudah pensiun dini dalam menggunakan socmed selama hampir dua tahun. Prestasi yang boleh dibilang membanggakan. Alasannya karena, pertama, emang saya akui kalau saya ini anaknya memang gaptek. Kedua, karena memang saya malas untuk nge-post. Ketiga, karena waktu itu jalan satu-satunya move on dari si mantan br*ngs*k adalah dengan menghilang ditelan bumi.

Intinya semua alasan tersebut membuatku yaqueen dan mantap untuk memutuskan kalau aku dan social media memang tidak bisa lagi untuk dipersatukan. Tetapi 3 bulan belakangan ini, apps berwarna merah muda yang menggoda itu sempat saya install lagi di ponsel jadul pink saya. Kembalinya saya ke dalam dunia maya bukan untuk alasan personal, tapi karena kemarin-kemarin saya sempat bikin bisnis kecil-kecilan bareng teman SD yang mewajibkan saya untuk memantau akun IG jualan kami yang uzung-uzungnya kepo kehidupan para artis. Kehidupan mevvah yang terlihat sempurna di luaran (Padahal mah kagak juga). Tapi hidup yang mereka lukiskan di IG berhasil membuat kehidupan rakyat jelata seperti saya terlihat seperti serpihan tempe mendoan yang jatuh ke lantai warteg. Lembek-lembek berminyak dan diinjak sana-sini. HIKS.

Akhirnya apps yang kedjam itu saya hapus lagi dari HP, karena lagi-lagi kehadiran social media telah terbukti membuat rasa bersyukur manusia berkurang sebanyak 65% setiap harinya.

Selain itu, penyebab mental breakdown pagi ini juga turut disponsori oleh cuaca di San Francisco yang tidak mendukung untuk merasa bahagia. Sudah beberapa hari ini langit SF berwarna abu-abu suram. Ditambah dengan cuaca yang mendung dan hujan seharian. Belum lagi pemanas ruangan di tempat saya tinggal menolak untuk menemani hari-hari yang dingin, yang membuat hidup semakin suram. Padahal saya sudah lapor sama landlord sampe mulut berbusa, tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Katanya si besok ada orang mau datang untuk betulin itu pemanas biar dia jadi ada gunannya dan nggak cuma jadi sampah masyarakat di pojokan. Tapi kita liat saja kali ini apakah si landlord akan menepati janjinya atau tidak pemirsa.

Selain keresahan-keresahan tersebut, saya juga sedang men-develop hobi overthink. Coba saya breakdown tabiat overthink saya di awal tahun 2022 yang membuat saya pengin galau seharian.

P.S : Gais mohon dipahami, yang nggak mau ikutan ketularan mental breakdown, boleh postingan ini di skip saja. Atau kalau mau lanjut baca nggak papa juga, siapa tau kita jadi bisa mental breakdown berjamaah.

  1. Manusia seribu ide tapi bosenan.

Seperti yang sudah disebutkan oleh primbon, bukannya sombong tapi memang sombong. Katanya, saya ini termasuk kedalam jajaran orang yang punya keahlian dalam mencetuskan ide-ide dahsyat dalam satu malam saja. Ide-ide yang saya cetuskan yang kadang-kadang juga out of the blue ini, kemungkinan hanya bisa dicetuskan oleh manusia normal dalam waktu satu bulan. Bukannya saya briliant, bukan. Tetapi, setelah tahun ini saya didiagnosa dengan bipolar disorder, saya jadi tahu kalau manusia dengan kondisi seperti saya ini akan mengalami periode manic dalam hidupnya dimana saya nggak bakal bisa tidur selama berhari-hari karena kebanyakan ide di kepala dan juga energi luar biasa yang entah dari mana asalnya. Tapi serius saya pernah menulis satu bundle marketing plan buat bisnis skincare temen saya pada malam-malam penuh ide dan energi tanpa tau dari mana mereka datang.

Jangan iri gais, ide hanyalah ide. I am still suck at implementing those ideas into reality. Percayalah, ada banyak project yang saya mulai tahun lalu dan nggak pernah ada yang selesai, dari project nulis buku, bikin short stories, bikin bisnis kecil-kecilan (lagi, dan juga gagal lagi) sampai bikin podcast di spotify. Nggak ada satupun dari project itu yang selesai atau at least bertahan. Semuanya ambyar. So gais, kalau kalian ada yang punya saran untuk saya biar bisa lebih commit ke suatu project tolong share di comment ya. Maaciw.

2. Manusia tanpa career

Nah ini nih perbincangan seru. Sebenernya penting nggak sih punya career dalam hidup yang singkat ini? Punya satu kerjaan yang jelas yang sesuai passion. Bentar, saya mau nanya dulu ke kalian. Digital nomad itu termasuk career bukan si atau at least sebuah kerjaan yang diakui keberadaannya?

Jujur saja selama masa corona yang membuat hidup saya dari nggak jelas makin menjadi nggak jelas. Pertanyaan sederhana seperti “What is your occupation?” menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab di berbagai occasion. Dari event casual seperti nongki bersama temannya teman, sampai yang serius seperti mengisi dokumen visa. Kalau dulu saya masih tinggal di Sydney, mudah saja kujawab pertanyaan netijen dengan lantang “I am a student”. Karena memang visa saya adalah visa student, sambil tipis-tipis ngebaboe untuk bertahan hidup.

Tapi bukannya saya nganggur gais. Walaupun saya terlihat seperti pengangguran banyak acara jalan kesana kemari. Saya masih melaksanakan kewajiban manusia pada umumnya yaitu mencari nafkah untuk diri sendiri dengan bekerja online. Uang yang dihasilkan yahh lumayan buat bertahan hidup selama pandemi dan kerjaannya sesuai karena yang bisa dibawa kemana-mana sambil travelling.

Tapi, kebingungan saya untuk menjelaskan pekerjaan saya menjadi sebuah masalah yang nyata adanya untuk para abang-abang immigrasi yang suka suuzon yang mengira saya mau jadi immigran gelap di negaranya. Apalagi imigrasi di US yang galak-galak bet abang-bangnya. Muka mereka di set sedemikian rupa biar keliatan galak agar aku dan para rakyat jelata ber paspor selain US kicut duluan sebelum maju meminta secuil stempel. Kalian pernah nggak sih ditanya hal simple dan menjawab dengan sejujur jujurnya tapi dengan kekuatan suuzon abang imigrasi tetap berasa boong karena orangnya nggak percaya-percaya.

Sampai-sampai mereka repot-repot masukin saya ke ruangan penuh ketegangan untuk terus mencecarku dengan pertanyaan yang makin kesini makin nggak relevan. Apalah aku bang bagi dirimu, berani-beraninya datang ke negaramu pada tanggal 11 September pake paspor Indo yang mau kemana aja ditanyain ribuan pertanyaan berasa kita kriminal apa gimana bang? Yaudah itu aja, I’m sure mereka cuma melaksanakan pekerjaanya, tapi nggak gitu-gitu amat kale ah.

Hal ini sedikit banyak membuat saya berfikir apakah career itu penting untuk dimiliki di dalam hidup yang singkat ini biar keren juga kalo ditanya sama keluarga.

Ahh tapi apalah aku yang nggak bisa stick di satu kerjaan ini pasti menimbulkan banyak kecurigaan. Tapi aku tak pernah perduli apa kata mereka, yang kuperdulikan hanyalah apa kata abang imigrasi. Jadi despite the flexibility that I like kerja freelance yang sudah cukup untuk menafkahi diri sendiri, dan keengganan punya bos. Hari ini saya berpikir untuk mulai kembali melamar pekerjaan. Biar saya punya job security dan kalau suatu hari ditanya lagi sama imigrasi yang hobi suuzon aku bisa menjawabnya dengan lebih mantap dan lantang: Aku sudah fix menjadi budak corporate bang. Puas kamu bang?

3. Berceceran dimana-mana tapi hati di Bali.

Jujur aja kalo saya ditanya dimana tempat paling nikmat untuk hidup. Jawabannya bukan di US, bukan juga di Australia, atau di Eropa. Tapi tempat paling nikmat dan nyaman buat hidup ya tetap di Bali. Mungkin kalian-kalian yang sudah merasakan betapa ramahnya Bali untuk ditinggali dari segi alam, manusia serta budaya kalian mengerti apa yang saya maksud.

Menurut pengalaman pribadi, saya yang memilih Bali sebagai tempat mengisolasi diri dari terpaan badai corona dan keluarga dua tahun lalu, hidup di Bali itu rasanya menyenangkan. Terlepas dari tempat-tempat mahal andalan para selebrgram untuk dapat foto yang instagramable, Bali buat saya tetap juara sebagai salah satu kandidat rumah masa depan.

Bagi saya pribadi, pulau yang memiliki segala keindahan alam dari pantai, gunung, sampai sungai adalah tempat yang cocok untuk dihuni. Tiap hari saya bisa sekalput (sekali putar naik motor) ke daerah Canggu-Mungguh sambil mampir di warung kecil untuk beli pisang goreng sama Teh Pucuk untuk bekal liat sunset. Jadwal saya setiap jam 5 sore adalah muter-muter naik motor sendirian sambil dengerin musik dan cari gorengan. Kebahagiaan terasa semakin dekat dan sempurna ketika abang pisang goreng nambahin satu biji ke plastik karena sudah menjadi loyal customer. Di Bali kebahagiaan saya nggak muluk-muluk. Aktifitas membandingan pencapaian diri dengan orang lain pun semakin berkurang karena..

HEY….

BUAT APA.

Jadwal saya sudah padet hiking ke air terjun yang nggak ada sinyalnya. Jangankan buat kepo orang, buat video call pamer ke Bapak sendiri aja kagak bisa nyambung.

Terus kenapa dong saya sering berceceran dimana-mana bukanya diem di Bali?

Jujur saja, walaupun udah OTW 30 tahun saya masih ‘merasa’ muda, belia dan penuh tipu daya. Saya pengin menggunakan masa muda yang menggelora ini untuk mencari perspective yang berbeda dari setiap sudut dunia. Pengin ngerasain segala macam asam manis dunia kalo kata pepatah mah. Pengin melakukan journey mencari dan membandingkan harga indomie di semua supermarket di seluruh belahan bumi (cita-cita yang agresive). Anyway intinya saya percaya dengan kata-kata Tante Brene Brown “When you know better you do better”. Kalau kita tahu dan pernah merasakan segala macam hal yang ditawarkan oleh Universe, bukan hanya secara otomatis opsi dan pilihan hidup yang kita miliki menjadi lebih banyak, tapi somehow kita juga menjadi lebih humble. Mau sekeren apa lu pikir idup lu, tetap ada yang lebih keren di luar sana. Biasa aja jadi manusia nggak usah banyak tingkah.

Seperti halnya orang lain liatnya keren aja hidup di luar negeri dengan postingan jelong-jelong di Opera House tiap hari. Nggak tau aja behind the scene cari duit buat survive disana kek apa. Ditindas bos sendiri sudah biasa, ditindas kehidupan demi sebongkah dollar sudah biasa, ditipu kawan sendiri juga sudah biasa, makan indomie tiap akhir bulan juga sudah biasa. Intinya idup di luar negeri nggak seindah yang ada di postigan Acha Septriasa di IGnya yang terlihat sempurna gais, IDUP KEDJAM buat rakyat jelata seperti saya.

Tapi, ada juga hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman hidup di luar negeri. Saya jadi tahu berapa upah yang adil yang bisa saya hasilkan dengan melakukan pekerjaan tertentu. Saya jadi tahu ada juga kerjaan freelance online yang bisa saya lakukan dan tetep dibayar pake dollar. (Pake apps cem fivver). Dan mata saya juga semakin terbuka bahwa cari duit bisa dimana aja yang penting asah skill aja terus dan melihat peluang. Kelak matamu akan terbukakan bahwa kerjaan nggak cuma 9-5 di kantoran.

Semua tempat di dunia ini intinya ada pahit dan manisnya. Agar aku lebih bijak dalam menjalani hidup, aku ingin serap semua hal itu untuk nantinya bisa kubawa untuk hidup di Bali juga ujung-ujungnya tapi dengan perspective dan cara hidup yang lebih baik. Tapi untuk sekarang biarkan anak liar ini menjelajah ke setiap sudut dunia sampe dapet banyak cerita dan perspective baru lainnya.

4. Pengin banget nerbitin buku Ya Allah tapi nggak komit iki piye

Yak mimpi yang selalu akan hidup di sanubariku adalah punya buku sendiri kek Bang Ical blogger idolaque dan Mbak Maria Frani Ayu yang juga udah nerbitin buku. Kalau masalah ide ada banyak banget bersliweran di otak yang nggak seberapa ini. Tapi jujur aku tak tahu harus memulai dari mana. Ada naskah yang sebenernya sudah beres saya tulis dan sudah dikirim ke berbagai penerbit semacam Gramedia dan kawan-kawannya. Tapi sepertinya aku kurang tenar sebagai selebgram jadi nggak di lirik atau memang naskah saya saja yang kurang bagus. (Biasa, manusia memang lebih sering menyalahkan orang lain daripada mengoreksi dirinya sendiri)

Kemarin saya sempat bertanya ke Mba Maria Ayu Frani tentang bagaimana cara dia bisa nerbitin buku pertamanya yang berjudul Agnosthesia. Katanya waktu itu ada seorang editor yang menghubunginya dan ngajak kerjasama bikin buku. Editor itu menemukan tulisan-tulisan mbak Ayu yang ciamik dari blognya.

Kalau begitu akan kusampaikan pesan kepada para editor diluar sana: “Wahai para editor yang sedang mencari penulis yang hobi meratapi hidup dan memiliki kekuatan untuk bangkit dari kemiskinan berulang kali, akulah orang yang kamu cari. Hubungi aku di email angkyridayana@gmail.com maka secepat kilat akan kubalas emailmu”

Anyway ada satu ide buku yang sedang ingin saya kerjakan. Tapi kali ini saya butuh bantuan kalian untuk membuat saya tetap bersemangat nulisnya sampai buku ini beres dan layak terbit. Judulnya UN/SURE. Bahkan saking semangatnya saya sudah mendesain covernya pake canva gratisan yang bisa kalian cek dibawah ini.

Ide ceritanya mostly tentang my random life choices in my 20s yang buat saya punya cerita aneh-aneh yang layak untuk didengarkan dan diperbincangkan. Bukan untuk diresapi, didengerin dan dighibahin saja sudah cukup. Cerita alasan dulu memilih jurusan Sastra Belanda waktu kuliah cuma karena pengin kuliah di UI, cerita ketipu agent au-pair waktu lulus kuliah yang ujung-ujungnya balik nipu mereka yang akhirnya membawa saya pergi ke Eropa selama 2 bulan, cerita terjebak menjadi pegawai bank Jepang di Jakarta cuma karena harus bayar cicilan kartu kredit kakak yang saya pakai buat beli tiket liburan, cerita jadi petani di Australia yang buat saya hampir mati di patok ular sampe kena heat stroke, sampai cerita kehidupan awal saya dengan kemiskinan yang demen banget nempel nggak lepas-lepas di Bali.

Kalau diliat lagi kebelakang, gila juga cerita hidup saya yang bukan siapa-siapa ini. Sampai-sampai ingin rasanya saya abadikan ke dalam sebuah buku dengan formasi yang terstruktur. Kalau nggak ada penerbit yang mau nerbitin juga kagak ngapa, personal goal saya menuliskan cerita saya di sebuah e-book biar saya punya pencapaian dalam hidup. Dan akhirnya saya berhasil punya catatan sejarah tentang kehidupan saya yang aneh bin random ini.

Siapa tahu kan cerita saya bisa menjadi inspirasi untuk manusia random lainnya. Karena pada akhirnya siapa sih manusia yang sure dengan pilihan hidupnya di umur 20an?

Apa semua orang yaqueen dengan pilihan hidupnya? Artinya cuma saya aja ini yang random. Ndak papa.

Yasudah intinya itu cita-cita saya tahun ini untuk menjadikan ide ini menjadi sebuah buku. Kalau pada akhir taun ini saya bisa mewujudkan mimpi ini, kita syukuran bareng di Bali pake pisang goreng sama teh pucuk di depan sunset di Batu Bolong.

So I challenge you guys to challenge me to write my book this year.

Bingung nggak? Sama

Anyway, itu updatean dari saya awal tahun 2022 ini, semoga saya bisa lebih commit dalam menulis buku habis selesai nulis ini. Dan semoga kalian juga bisa menikmati hidup di 2022 dan berdamai dengan corona yang nggak kelar-kelar ini.

Cheers!

Published by Angky Ridayana

A sun seeker and a story teller.

11 thoughts on “UN/SURE Book

  1. Mbak Angky, saya semakin yakin kalau Mbak Angky ini adalah seorang pencerita yang baik. Nampak sekali dari tulisan ini. Saya tidak merasa bosan menyelam dalam setiap kata-kata yang dituliskan di sini. Hangat dan bersahabat.

    Saya mengalami perdebatan tentang meninggalkan usia 20an ini pada tahun lalu. Rasanya, saya masih belum benar-benar rela untuk masuk ke gerbang usia 30an. Rasanya usia itu tidak sesuai dengan kepribadian saya yang masih seperti anak belasan ini. Saya semakin yakin kalau usia itu hanya angka saja. Bodo amat dengan angka 30!
    Saya sekarang lebih memilih untuk fokus pada hari ini, mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan saat ini dan pada hari ini. Singkatnya, hidup saya hanya untuk satu hari ini saja. Saya menolak untuk mengkhawatirkan tentang masa depan yang belum tentu, dan mengingat masa lalu yang hanya memberatkan hari ini. Cukup membantu untuk menjadikan saya tetap waras, Mbak. Bisa dicoba hehehe.

    Lalu, saya sangat berharap dapat memegang di tangan buku yang Mbak tulis dan terbitkan (saya sudah memvisualisasikan hal ini). Saya ingin belajar banyak dari kisah-kisah hidup Mbak Angky yang penuh petualangan, dan naik-turun untuk menjalankan peran sebagai seorang “Angky”

    Good luck, Mbak! Sangat ditunggu cerita-cerita petualangan lainnya.

    Like

    1. Happy New Year Mbak Ayu! Terimakasih banyak sudah membaca cuap-cuap saya hhe. Emang Mbak paling bisa bikin semangat dan kepercayaan diri saya membara lagi.

      Walaupun kadang saya beneran masih suka ngerasa tulisan saya nggak indah dan nggak pake saringan untuk dibaca. Tapi saya akan tingkatkan lagi Mbak. Terimakasih feedbacknya Mbak Ayu.

      Benar sekali Mbak. Walaupun saya mencoba cuek tapi ada juga part di diri saya yang bilang “Ya ampun kemana umur 20an perginya cepet bet”

      Wah perlu dicoba ini saran Mbak Ayu untuk menolak menghkawatirkan masa depan yang belum tentu. Karena worrying makes you suffer twice kata orang mah. Kemaren saya justru dengar kalimat seperti ini Mba “No one makes it out alive, do not be too serious”. Langsung peri ke warung beli 5 ice cream magnum. (bukan endorse).

      Cheers untuk fokus hidup pada hari ini!

      Mbakk saya makin semangat untuk nulis ini kalo buku saya mau dibaca sama penulis handal seperti Mbak Ayu. Tunggu tanggal mainnya ya Mbak dan minta doanya hhe.

      Have a good day Mbaakk

      Liked by 1 person

      1. Saya sungguh menanti dengan penuh harap dan doa, lahirnya buku Mbak. Saya sudah membayangkan petualangan membaca yang pastinya akan sangat menyenangkan, Mbak.

        Yeap! Cheers untuk fokus hidup hari ini!

        Sangat setuju dengan pernyataan ini, “No one makes it out alive, do not be too serious”. Nikmati hidup ini sampai potensi maksimalnya, dan jangan sampai ada penyesalan.

        Have a adventurous day, Mbak!

        Semangat menulis! dan fokus menulis sampai selesai! Bisa!

        Liked by 1 person

        1. Terimakasih banyak mbak Ayu. saya akan semakin rajin nulis project buku ini kalo yang mau baca penulis handal kayak Mbak Ayu hhe.

          Yes bener banget Mba, seru ni kalo di buat buku ya, No one makes it out alive, don’t be too serious.

          You too mbak, have a wonderful year yaaa.

          Please semangatin akoh buat nulis terusss hhe

          Liked by 1 person

          1. Saya akan dengan senang hati menyemangati Mbak Angky, sampai selesai, sampai tuntas proyek buku ini.

            Saya adalah salah satu pembaca di blog Mbak, yang terpesona dengan kehangatan dan kejujuran dalam setiap kata-kata yang Mbak tampilkan. Saya juga beruntung untuk mengetahui bahwa Mbak ternyata adalah orang yang menaruh nilai dan arti pada pengalaman-pengalaman sehari-hari yang mungkin banyak orang menganggap biasa-biasa saja. Mbak punya karunia untuk menjadikan hal-hal yang sederhana menjadi luar biasa. Ini adalah bekal yang sangat cukup untuk menulis, Mbak.

            Semangatttt!!

            Liked by 1 person

            1. Siap Mbak AYU! Saya akan komit kali ini untuk menyelesaikan buku ini, doakan terus ya Mba. Nanti kalau saya butuh professional advice boleh minta ke Mbak gak?

              Mba Makasih banyak ya selalu buat saya terus percaya diri buat nulis. Thank you so muchh. Mbak Ayu dan blognya juga salah satu yang membuat saya terispirasi Mbaaakk. Thank YOUUU :))

              Like

              1. Tentu saja, saya akan membantu Mbak Angky. Saya akan dengan senang hati membantu. Suatu kebanggaan bagi saya untuk bisa membantu Mbak Angky.

                Semangat ya, Mbak. Semangat menyelesaikan!

                Like

Leave a Reply to adisriyadi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: