Yogyakarta #pulangkekotamu

Sebagian orang yang tinggal di Jakarta datang ke Yogyakarta untuk berlibur. Sebagian ingin merasakan budaya dan tradisi kuno yang ditawarkan kota ini, sebagian lainnya ingin memanjakan lidah dengan makanan manisnya, beberapa hanya ingin melarikan diri dari lautan kemacetan Jakarta, sementara sisanya hanya ingin #pulangkekotamu.

Kampung halaman saya bukan Jogja. Saya pun berkuliah di Depok, Jawa Barat dan bekerja di Jakarta. Tetapi pada masa kuliah, saya lebih banyak menghabiskan waktu di Jogja karena sebagian besar teman SMA saya bersekolah di kota ini. Saya bahkan rela menghemat uang jajan di Depok hanya untuk membeli tiket kereta ekonomi tujuan Jogja. Bagi saya Jogja adalah medan magnet dan saya adalah besinya yang membuat saya selalu tertarik lagi dan lagi untuk mengunjunginya.

Bulan Februari 2017 lalu saya pulang ke kota gudeg ini untuk mengobati rasa rindu saya akan Jogja. Saya rindu dengan suasananya, orang-orangnya, kulinernya, pengamen jalanannya hingga kenangan-kenangannya.

Di bawah langit Jogja yang terasa familier, saya kembali menelusuri jalanan Jogja yang ramah dengan pedagang kaki lima bersama teman SMA saya Indri dan Sita. Kami menyusuri jalanan Malioboro yang merupakan poros garis imajiner keraton Yogyakarta ini bersama. Hari itu jalanan Malioboro sedang penuh sesak dengan rombongan turis-turis yang penasaran dengan pertunjukan jalanan yang ditampilkan oleh seniman-seniman lokalnya. Seorang penari laki-laki dengan kostum berwarna hijau terang dipadu dengan kain batik menari-nari lincah ditengah lautan manusia diiringi musik kentongan yang memanjakan telinga pendengarnya. Pengunjung di sana dibuat terpukau dengan keahlian sang penari yang meliuk-liukan tubuhnya kesana-kemari mengikuti suara musik yang didendangkan, menarik rasa penasaran semua orang yang melintas di depannya. Di seberang jalan seorang wanita paruh baya sedang asik mengipas sate ayam daganganya yang menyemburkan kepulan asap beraroma sedap terbang ke seluruh penjuru jalan. Sementara saya melenggang santai di jalanan yang sudah terasa akrab dengan menyunggingkan senyuman yang tak lepas-lepas dari wajah saya seolah-olah ada yang membisikan di telinga saya “Welcome home ki”

Delman di tepi-tepi jalan, batik-batik yang berjejer sepanjang trotoar, pedagang gudeg dan wedang ronde di depan pasar Beringharjo, hingga pengamen jalanan di depan kedai-kedai lesehannya membawa ingatan saya kembali ke suatu malam yang masih tersimpan rapih di memori saya. Seketika itu juga sebuah layar masa lalu terbentang di hadapan saya.

Tangannya mengenggam kuat tangan saya, kami menyebrangi jalanan Malioboro yang tak pernah sepi.  Sesekali ia melingkarkan lengannya ke pundak saya sembari mengoceh tiada henti tentang pertandingan sepak bola yang baru ditontonnya. Sementara saya menatapnya tak berkesudahan. Malam itu kami seolah ingin melahap semua sisi romantis Jogja berdua saja tanpa mau berbagi dengan siapapun. Seperti tak ingin kehilangan momen ia meminta seorang tukang becak untuk membawa kami berkeliling Alkid yang ramai dan riuh dengan lampu-lampu neon yang dipasang di odong-odong sewaan. Sambil tersenyum saya menyandarkan kepala saya ke pundaknya dan menikmati Jogja bersamanya untuk kesekian kalinya.

Itu adalah salah satu dari banyak momen yang layak untuk dikenang dengan Jogja sebagai saksinya. Walaupun kisahnya sudah lama berakhir namun kenangan akan Jogja kala itu sama sekali tidak saya coba untuk lupakan bahkan dihapuskan. Kenangan buruknya saya buang tapi kenangan manisnya saya simpan, boleh kan?

Mengenang kembali Jogja sama dengan mengingat hari-hari ketika saya rajin begadang hanya untuk menghabiskan waktu di angkringan bersama teman-teman. Rasanya sayang jika malam hari di Jogja hanya dihabiskan di dalam kosan untuk tidur. Suatu malam, saya, Hanum, Bimbi, Otong, Puput, Kadin dan Icha sepakat untuk mengambil foto di depan tugu Yogyakarta yang ikonik pada tengah malam. Setelah itu kami pun menuju kampus UGM untuk berfoto pada pukul 3 pagi. Katanya kalau foto di depan tulisan UGM lulusnya lama. Bagi saya, Hanum, dan Kadin hal itu bukan masalah karena kami bukan mahasiswa sini, tetapi bagi yang lainnya yang mengenyam pendidikan di UGM berfoto di depan kampus mereka adalah sebuah tantangan dan pembuktian.

Berada di Jogja membuat saya menjadi spontan. Saat sedang menghabiskan malam di McD tanpa rencana yang matang kami langsung berangkat ke pantai Sundak Indrayani di Gunung Kidul pada pukul 04.00 pagi untuk melihat sunrise. Jalanan yang berliku, hutan dengan pohon-pohon lebat di kanan kiri jalan, hingga waktu tempuh yang memakan waktu 2 jam membuat kami sukses melewatkan sunrise pagi itu. Harapan kami melihat matahari terbit harus pupus. Sampai di sana matahari sudah terbit sepenuhnya. Tetapi entah kenapa kami sama sekali tidak kecewa. Kami justru menikmatinya dengan membiarkan cahaya matahari menerpa wajah kami sambil berjalan di bibir pantai. Bagi kami tidak ada perjalanan yang sia-sia.

Saat di Jogja, kuliner pun menjadi incaran saya. Dari Ayam Mas Kobis, Ayam Cha Do Jo, Sate Klathak, Bungong Juempa, hingga Raminten yang terus membuat saya rindu akan rasa khasnya setiap kali berada si kota lain. Makanan khas Jogja mengajarkan saya bahwa kenikmatan sebuah makanan tidak melulu harus disajikan di tempat bergengsi dengan pendingin ruangan di sudut-sudutnya. Di Jogja saya hanya perlu sebuah kursi kayu atau tikar dengan menu nasi ayam cabai untuk membuat saya menikmati sebuah malam.

Ketika ditanya oleh orang asing yang saya temui dalam perjalanan-perjalanan saya tentang kota favorit di Indonesia, saya tak pernah mengganti jawaban saya. Kota itu adalah; Jogja, kota yang selalu membuat saya ingin pulang kembali.

#pulangkekotamu.  Ada setangkup haru dalam rindu.

Salju pertama di Seoul

Sebagai pelancong Asia yang tinggal di daerah tropis, melihat salju sudah pasti ada di bucket list saya. Seoul, Korea adalah negara yang saya pilih untuk bertemu dengan salju pertama saya karena tiket murah ke Seoul di bulan Januari seperti mendukung niat saya ini. Demi rasa penasaran yang besar saya rela menabung berbulan-bulan dan berhemat untuk melihat salju di negeri gingseng ini. Bulan Januari 2014, berangkatlah saya ke Korea dengan berbekal peta dan basmalah.

Selama 18 hari saya di negara yang populer dengan K-popnya ini, hujan salju belum juga turun. Tumpukan salju kotor yang berada di tepian jalan memang terlihat di mana-mana, tapi tentu saya ingin melihat salju turun langsung dari langit Seoul saat itu. Beberapa hari lagi saya pulang ke Indonesia, dan harapan saya untuk melihat salju rasanya harus saya kubur dalam-dalam karena teman Korea saya bilang butiran es itu sudah turun banyak pada bulan November dan Desember membuat kemungkinan hujan salju di bulan ini sangat kecil.

Saya pun menghabiskan sisa waktu di Korea tanpa ambisi untuk bertemu dengan hujan salju. Saat itu saya hanya ingin menikmati setiap sudut Seoul sebelum pulang ke Indonesia. Dari mengujungi Seoul Central Mosque di Itaewon, nonton film di Songdo, mengitari Gyeongbokgung, berjalan-jalan di Bukchon Hanok Village, sauna (jimjilbang) di Dongdaemum, hingga berbelanja pernah-pernik di Insadong. Kalaupun saya tidak bertemu dengan salju sekarang, saya bisa datang lagi tahun depan, saya hanya perlu berhemat dan menabung lagi. Kan?

***

Malam yang semakin dingin di suatu sudut kota Seoul. Saya, Wulan dan Arum menghabiskan waktu di Hongdae. Tempat ini terkenal sebagai tempat berkumpulnya anak muda di Seoul dengan banyaknya tempat makan, street performance, jajanan kaki lima, hingga seni jalanannya. Letaknya dekat dengan Universitas Hongik salah satu sekolah seni rupa terbaik di Seoul. Di sini saya sering makan odeng sambil menyaksikan street performance dari orang-orang lokal yang suaranya sangat merdu seperti artis-artis Korea.

Di Hongdae kami bertemu dengan Hyunggi dan Daegun Oppa, teman Korea kami yang pernah kuliah di UI, Depok. Dulu saya sering membawa mereka ke Pekan Raya Jakarta untuk makan kerak telor dan lihat budaya-budaya betawi. Jadi sekarang mereka pun ingin menjadi tuan rumah yang baik untuk saya dengan mengajak kami yang sudah menggigil kedinginan ini untuk makan es krim! Hyunggi Oppa pria berpostur tinggi yang lancar berbahasa Indonesia ini senang sekali bercanda. Saat kami bercerita tentang keinginan melihat salju di Seoul, ia menanggapi dengan optimisme. “Aku pikir besok akan turun salju untuk kalian” ujarnya santai sambil menyantap es krim green tea di tangannya. Kami tak menghiraukan kata-katanya, karena hampir setiap kata yang diucapkanya adalaah candaan.

Hari ini kami akan menginap di apartment Pak Maman, seorang dosen Sastra Indonesia UI yang sudah bertugas mengajar di Hankuk University of Foreign Studies selama lima tahun (HUFS). Kampus yang terkenal dengan bidang studi bahasa asing dan juga social sciencenya ini juga memiliki program studi Bahasa Indonesia. Mengetahui Bahasa Indonesia menjadi salah satu jurusan favorit di HUFS membuat hidung saya kembang kempis saking bangganya.

Beberapa hari sebelumnya, beliau meminta kami untuk menjadi dosen tamu di kelas bahasa Indonesianya karena ia membutuhkan native speaker untuk membantunya mengajar. Dengan senang hati kami pun tanpa pikir panjang langsung ikut Pak Maman mengajar di HUFS dan bertemu dengan murid-muridnya yang kebanyakan lebih tua dari kami. Dari mengajar tentang kata imbuhan hingga penggunaan kalimat percakapan dengan benar kepada murid-murid Pak Maman memberi saya pengalaman yang luar biasa. Ini adalah kali pertama saya merasakan menjadi asisten dosen di luar negeri. Rasanya senang sekali membawa bagian dari negara saya untuk saya bagikan ke orang asing. Walaupun murid-murid Pak Maman masih terbata-bata dalam mengucapkan kalimat berbahasa Indonesia tapi saya sungguh mengapresiasi semangat belajar mereka. Melihat orang asing bersusah payah belajar bahasa dan budaya Indonesia membuat saya sungguh merasa bangga menjadi warga Indonesia.

Apartment Pak Maman terletak di kawasan Hwarangdae, dekat dengan kampusnya mengajar. Kami bertiga tidur di kamar sempit yang terletak di samping dapur dengan berdesak-desakan. Salah satu dari kami bahkan harus tidur di lantai dengan penghangat agar tidak kedinginan. Tapi ini pun sudah cukup untuk mahasiswa kere seperti kami.

Pukul 04.00 pagi, saat kami masih terlelap tiba-tiba dari pintu ada suara ketukan keras diikuti dengan teriakan “Bangun! Bangun! Bangun!”. Saya langsung terbangun dan berdiri dengan kaget dengan mata yang masih mengantuk. Apakah ada maling? Atau kami berbuat salah jadi Pak Maman marah? Gempa bumi kah?? Pikiran saya macam-macam saat itu.

Arum yang berada paling dekat dengan pintu, membuka pintu dengan mata setengah tertutup “Ada apa pak?”  katanya sembari menguap.

“Lihat ke jendela sekarang!” kata Pak Maman dengan semangat.

Kami bertiga buru-buru menuju jendela dan melihat butiran salju turun dari langit yang gelap dan langsung menggunung di permukaan tanah yang basah. Salju yang sudah kami tunggu-tunggu selama ini!!! Tetapi anehnya entah mengapa rasa kantuk sepertinya megalahkan rasa penasaran kami. Satu persatu dari kami kembali ke tempat tidur dan kemudian terlelap lagi hingga beberapa jam kemudian.

Saat bangun pada pagi harinya kejadian tadi serasa hanya ada di mimpi. Namun kami buru-buru membuka tirai kamar dan melihat keluar, semua atap rumah sudah diselimuti dengan gumpalan berwarna putih. Dengan air muka meletup-letup semangat kami tiba-tiba terbakar untuk cepat keluar dan bermain dengan salju!! Jendela yang membeku di kamar saya buka untuk memegang butiran es yang menempel di besi-besinya. Dingin. Saya amati butiran putih di tangan saya, persis seperti bunga es yang ada di freezer kulkas di rumah. Bedanya adalah kulkas ini seluas dataran Seoul. Hujan salju terus turun hingga malam hari, menyisakan gunung salju di mana-mana. Membuat jalanan yang dilewati menjadi sangat licin sehingga kami harus ektra hati-hati dalam melewatinya, tapi kami sama sekali tidak keberatan!

Sepanjang hari saya, Arum dan Wulan menghabiskan waktu di luar rumah, seperti tak mau rugi untuk bermain di salju pertama. Bertingkah seolah-olah kami adalah Elsa di film Frozen yang bisa membangun istana salju hanya dengan sapuan tangannya!. Dinginya sungai Cheonggyecheon di pusat Seoul malah kami manfaatkan untuk bermain perang bola salju hingga sore hari.

Seorang pengajar pernah mengajari saya tentang ambisi. Terkadang ketika kita mengesampingkan ambisi dan lebih memilih untuk menikmati apa yang ada, sesuatu yang di harapkan justru datang tanpa diminta. Mungkin hal ini yang dilakukan oleh salju pertama saya, ketika saya sudah tak mengharapkanya lagi ia datang membawa kebahagiaan yang lebih besar dengan memberi saya kejutan di hari-hari terakhir saya di Seoul.

-Maybe in the course of lifetime, things simply happened when they were supposed to-

IMG_1150

 

​Terong Balado dan KFC gratis di Malaysia (Cerita Mahasiswa Kere)

Hanum adalah sahabat saya dari TK. Sekarang ia sedang melanjutkan gelar master di Denmark. Dari dulu kami sering disebut sebagai saudara kembar, karena memiliki postur tubuh dan potongan rambut yang selalu sama. Walaupun kami tidak satu sekolah ketika SMP, SMA, bahkan saat di bangku kuliah, tapi kami berdua sangat dekat. Hal yang membuat kami semakin dekat adalah kami sama-sama menyukai dunia traveling dan menulis.
“Ki ayo kita ke luar negeri” pesan yang ia kirim beserta harga tiket promo ke Singapura seharga Rp. 200.000 serta tiket pulang dari Malaysia dengan harga yang sama. Saat itu kami masih berada di semester 4 dan belum pernah bepergian ke luar negeri. Saya adalah orang yang paling sulit menolak ajakan berlibur, jadi tanpa pikir panjang saya langsung menyambut baik ajakanya. Sebelum tanggal keberangkatan, kami menghemat sebisa mungkin, dari puasa, makan nasi sayur, hingga memelas pada kakak kami agar mendapat tambahan uang saku. Seperti kata Jojo di film Joshua oh Joshua “Iyalah kawan demi cita-cita apapapun kulakukan demi cita-cita”.

Januari 2013, berangkatlah kami dengan uang yang pas-pasan tapi nyali yang besar. Ini kali pertama bagi kami pergi keluar negeri, walaupun hanya Singapura, tetapi kami yakin bahwa ini adalah langkah awal untuk melakukan perjalan-perjalanan selanjutnya. Saking hematnya, sebelum berangkat ke bandara dari rumah kami membawa nasi bungkus yang dibungkus dengan kertas daun buatan Budenya Hanum. Orang-orang yang melihat kami makan rames di bandara menatap dengan pandangan iba. Tetapi tentu saja kami nggak malu dan malah melanjutkan acara makan dengan membuka pisang susu yang kami bungkus dengan plastik sebagai dessert penambah tenaga.

Di Singapura kami menginap di hostel yang hanya seharga SGD 8 saja seharinya yang satu kamarnya berisi 14 orang. Setiap akan keluar dari hostel, kami tidak lupa mengambil banyak roti tawar gratis di dapur hostel yang diolesi dengan selai dan memasukannya ke box makan, lumayan untuk bekal makan siang. Untuk makan malam, kami selalu membeli menu yang paling murah dah porsinya paling banyak, agar bisa kami bagi dua, romantis kan?

Tapi walaupun kere, kami tetap harus ada budget untuk pergi ke Universal Studios Singapore supaya kami bisa sombong ke teman-teman kalau pulang nanti. hehe. #biarkereyangpentingsombong. Hanum selalu merasa tertantang naik wahana-wahana di sana, kalau saya si gampang pusing. Tapi tetap kami tidak mau melewatkan yang satu ini.

DSC_0543

Hari pertama di Malaysia kami berdua sakit. Penyebabnya adalah karena kami kecapean seharian membawa backpack dan naik kereta malam yang super dingin dengan sepatu sneakers yang basah dari Terminal Woodsland Singapura ke KL Sentral Station selama enam jam. Ternyata tidak hanya miskin, kami juga ndeso gampang masuk angin kalau AC kekencengan. Untungnya hostel kami menginap dekat dengan stasiun jadi kami yang sudah lelah ini tidak perlu naik kendaraan lain untuk sampai di hostel. Kali ini kami menyewa private room, harga satu kamarnya hanya Rp. 120.000 per malam dengan share bathroom, tapi ya seadanya, bahkan AC-nya bocor dan hampir tidak ada space untuk menaruh barang, masuk kamar isinya hanya kasur besar tanpa selimut.

Besoknya kami sudah sehat berkat tolak angin dan siap mengitari Kuala Lumpur dengan atensi dan semangat yang sama. Petaling street adalah salah satu tujuan wisata kami. Namun, hari itu hujan deras, jadi kami berteduh sambil berbelanja di salah satu lapak souvenir yang menjual gantungan kunci dan souvenir khas Malaysia lainnya.

Yang paling menyenangkan traveling bersama Hanum adalah, ia selalu membawa notes kemanapun ia pergi.Ia pun tak sungkan untuk bertanya pada orang asing layaknya reporter, rasa ingin tahunya sungguh besar. Saya jadi merasa teredukasi setiap bepergian bersamanya. Hanum langsung mengambil notes kecil miliknya dan bertanya-tanya kepada ibu-ibu penjual souvenir di Petaling street tentang barang dagangannya.

Sebelum sempat berbincang dengan pemilik lapak, seorang ibu berpostur gempal datang dan berkata

“ Aku arep balik, titip kanggo anakku ya”

“ Yo delah wae neng kono” balas bu pemilik lapak.

Aku dan Hanum saling tatap lalu bertanya “Loh sampean wong Jowo Bu?”

Dan benar saja, ternyata mereka adalah orang asli Trenggalek yang merantau ke Malaysia untuk menjadi pedagang souvenir dan bekerja di pabrik. Kami pun langsung mengajak mereka mengobrol dengan bahasa Jawa.

Bu Arum Sari si pemilik lapak yang sudah 17 tahun merantau ke Malaysia bertanya kenapa kami ke Malaysia. Kata beliau di sini hanya ada gedung kembar, kalau di Indonesia kan ada banyak destinasi yang lebih menarik. Betul juga kata ibu.
Saat sedang asik mengobrol perut kami tiba-tiba bunyi karena lapar. Kami lalu minta ijin untuk pada bu gempal dan bu Arum untuk pergi makan. Si ibu gempal dengan baik hatinya menawarkan diri untuk menunjukan tempat makan yang murah meriah di sekitar Petaling. Jadilah kami mengintil si Ibu dan masuk ke dalam sebuah gang di mana ada sebuah warteg tersembunyi. Kami langsung memesan terong balado dan ceker ayam kesukaan Hanum serta es teh. Saat akan bayar, Bu Gempal dengan heroiknya berkata “Wes ra usah, aku wae sing bayar” membuat kami merasa menjadi mahasiswa kere paling beruntung  di dunia. Bu Gempal duduk di samping kami dan makan bersama. Kami terlarut dalam obrolan layaknya ibu dan anak, cerita tentang handphone murah yang ia belikan untuk anaknya di Indonesia dan nasihat untuk selalu berhati-hati di Malaysia mengisi sore kami yang berkualitas ini.

DSC01277

Selesai makan kami memutuskan untuk kembali ke lapak Bu Arum Sari karena hujan semakin deras. Kami ingin berteduh dan bercerita lebih banyak dengan Bu Arum. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana sampai hujan reda pada sore hari menjelang malam. Tiba-tiba suami Bu Arum yang sedari tadi mondar mandir di sekitar Petaling, seorang yang berkebangsaan Malaysia datang sambil menenteng satu box KFC dan menyodorkannya pada kami “Makanlah ayam ni tuk makan malam”. Sungguh anugerah terindah yang pernah kumiliki, seharian kami sama sekali nggak mengeluarkan uang untuk makan. Memang betul kata pepatah, bahwa SKSD membawa berkah.

Sampai saat ini saya dan Hanum terus berikrar bahwa kami akan terus menjajaki tempat-tempat baru dan bertemu orang baru lalu menuliskannya di catatan perjalanan kami. Walaupun kami harus menabung dan berhemat serta jalan-jalan dengan budget super pas-pasan, tapi hal itu justru membuat kami merasa semakin tertantang.

Motto Hanum Angky: Rajin menabung pangkal berlibur!!

Gendong Karung Beras di Tokyo

Dulu waktu saya masih duduk di bangku SD hingga saya SMP, saya dan kakak hobby sekali membaca komik manga. Di pojok kamar di kampung halaman saya, setumpukan komik Jepang yang sudah mulai usang seperti serial Detective Conan, Salad Days, Hai Miiko, Penguin Brothers, Inuyasha selalu setia menunggu kami setiap pulang sekolah.

Saking freaknya dengan budaya Jepang, saya sampai membeli buku khusus latihan menggambar manga untuk belajar menggambar komik agar suatu hari nanti saya bisa buat komik karya sendiri #khayalananakSDjamandahulu.

Dari komik-komik itu saya belajar banyak tentang budaya-budaya Jepang seperti budaya membeli omamori(jimat) di kuil saat tahun baru Oshogstsu dan Koshogatsu, hanami atau piknik di bawah pohon sakura, kesenian ikebana atau merangkai bunga, seni teater kabuki, festival budaya rakyat matsuri, hingga budaya mandi di Sento (pemandian umum). Selama dua tahun bekerja di bank Jepang pun saya jadi tahu sedikit tentang kebiasaan-kebiasaan orang Jepang yang sedikit konservatif namun tetap mengikuti perkembangan zaman. Kebudayaan-kebudayaan dari komik hingga budaya di kantor ini yang akhirnya membuat saya semakin penasaran untuk mengunjungi negeri sakura ini.

Pada musim semi 2016, setelah menabung selama beberapa bulan saya akhirnya berhasil menginjakan kaki ke Jepang. Saya beruntung bisa mengunjungi negeri matahari terbit ini pada musim terbaiknya, yaitu musim di mana bunga-bunga sakura bermekaran.

Selama di Jepang saya mendapatkan akomodasi gratis karena kebetulan ada senior yang sedang melanjutkan S2 di Tokyo, jadi saya bisa nebeng tidur di tempatnya. Senior saya ini bernama Mba Wewen, sewaktu masih kuliah di Depok setiap malam minggu ia yang selalu menginap di kosan saya untuk mengerjakan essay sebagai persyaratan beasiswa. Setelah berbulan-bulan mengumpulkan persyaratan, interview serta begadang sampai tengah malam, perjuanganya membuahkan hasil. Ia lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa master penuh di universitas impiannya, Tokyo Institute Technology. Saya tentu saja ikut senang dengan prestasinya ini, karena selain saya menjadi ikut termotivasi mengikuti jejaknya, saya pun jadi bisa berkunjung dan menginap di Apatonya (Apartment) ketika saya datang ke Jepang.

Apato Mba Wewen berada di daerah Yokohama, yang merupakan kota terbesar kedua setelah Tokyo. Ibukota perfektur Kanegawa ini letaknya tidak terlalu jauh dari airport, sekitar 40 menit menggunakan metro. Dari Haneda Airport saya dan Gita teman saya yang ikut trip kali ini naik metro ke arah den en toshi line sampai ke St.Nagatsuta, stasiun terdekat dari tempat Mba Wewen tinggal. Sampai di Nagatsuta sekitar pukul 1 pagi, Mba Wewen sudah berdiri menunggu kami di sebuah mini market di dalam stasiun dengan kedua tanganya masuk ke dalam saku jaketnya. Dari tempat kami dijemput, kami masih harus berjalan lagi selama sekitar 10 menit untuk sampai ke apato Mba Wewen. Tapi demi akomodasi gratis jalan naik turun tangga kami jabani sambil tarik-tarik dan angkat-angkat koper seberat 7 kg per orang pada tengah malam.

Untuk menghemat biaya pesawat, dulu saya jarang sekali beli bagasi. Tahun 2014 ketika saya pergi ke Korea, koper saya seberat 15 kg yang berisi winter coat lolos ke dalam cabin baggage pada perjalan berangkat dan pulang. Perjalanan ke Jepang kali ini pun saya hanya mengandalkan bagasi cabin. Tapi kali ini saya memilih untuk tidak membawa banyak barang dan lebih berhati-hati dengan berat bagasi yang sudah ditentukan oleh maskapai. Untuk mengantisipasi kelebihan bagasi, saya pastikan berat koper saya tidak lebih dari 7 kg, dan besar kopernya pun saya ukur dengan teliti agar tidak lebih dari yang sudah di tentukan yaitu 56cm x 36cm x 23cm.

Saat hari keberangkatan saya merasa sedikit was-was, karena entah kenapa roda koper saya sedikit besar membuat koper saya keseluruhan jadi terlihat besar. Ketika sampai di depan gate, terbuktilah kekhawatiran saya, koper saya nggak muat masuk ke dalam alat pengecek ukuran koper, rodanya nyangkut. Padahal beratnya tidak melebihi berat yang sudah ditentukan. Mau tidak mau saya harus bayar bagasi di tempat yang kejam itu. Sebenarnya harga bagasinya hanya Rp 300.000, tapi karena penerbangan saya transit di Kuala Lumpur jadi harga bagasinya dihitung untuk dua kali penerbangan. Dengan berat hati saya berikan uang Rp 600.000 kepada petugas bandara karena dianggap baggage exceed. Sedih. Padahal beratnya sudah pas seperti yang ditentukan cabin baggage hanya karena perihal roda saya harus bayar lebih, mending uang itu saya pakai buat makan sushi di Jepang. Kadang kalau saya terlalu hati-hati dan terlalu mengikuti aturan bandara saya malah jadi apes. Kenapa ya?

Tapi biarlah pegalaman ini saya jadikan pelajaran.

Sesampainya di Jepang, kekesalan saya karena harus bayar kelebihan bagasi langsung hilang hanya dengan melihat pemandangan bunga sakura berwarna pink yang bermekaran di mana-mana. Sepanjang jalan kami disuguhkan hamparan pohon-pohon sakura yang berjajar menghiasi kota Yokohama yang sepi. Kami bahkan sengaja mengepak bekal makan siang dari rumah untuk melakukan tradisi hanami dengan duduk di bawah pohon sakura.

Saya dan Gita duduk di bangku taman bersebelahan dengan nenek-nenek dan kakek-kakek yang sedang asik bercengkerama di atas tikarnya. Selain bunga sakura, di Yokohama Park saat itu juga sedang diadakan festival bunga tulip. Walaupun kami datang ke sana pada malam hari, tetapi pemandangan jajaran bunga tulip berwarna terang tetap memukau pandangan kami. Festival yang diadakan setiap tahun ini menyuguhkan suasana musim semi yang sesungguhnya dengan menghadirkan bunga khas Belanda di lahan yang begitu luasnya, mirip seperti di taman tulip Keukenhof di negara asalnya. Soo Happy!! I really got that spring sensation i always wanted.

DSC01058

Ketika berada di Jepang, saya lebih menikmati waktu saya di Yokohama daripada di Tokyo. Mungkin karena Yokohama lebih sepi dari Tokyo dan saya menyukai ide bersepeda keliling kota sambil menyusuri sungai tanpa takut salah jalan. Sementara Gita lebih suka jalan-jalan di pusat perbelanjaan di Tokyo seperti Harajuku, Shibuya dan Ginza.

Hari-hari pertama saya menemani Gita untuk belanja di kawasan Harajuku dan Shibuya, melihat ribuan orang melintasi Shibuya crossing dengan terburu-buru. Hal ini justru membuat kaki kiri saya jadi bengkak karena terlalu banyak berjalan dengan sepatu boots. Jadi pada hari-hari terakhir saya lebih memilih untuk stay di Yokohama untuk sekedar bersepeda menyusuri sungai Onda sambil sesekali berhenti untuk ngemil onigiri dan dorayaki.

Saat akan meninggalkan Jepang saya jadi trauma dengan masalah baggage exceed. Dari Tokyo saya akan melanjutkan penerbangan ke Seoul dengan maskapai Peach Air, budget airlinenya Jepang. Kali ini Gita tidak ikut, ia akan langsung pulang ke Indonesia dengan jadwal penerbangan satu hari setelah saya. Lagi-lagi saya nggak beli bagasi untuk ke Seoul, toh saya pikir nggak akan beli banyak barang di Jepang. Karena koper saya di Indonesia dibilang terlalu besar dan melebihi maximum size, jadilah saya tinggalkan koper itu di apartment Mba Wewen, saya nggak mau bayar kelebihan bagasi lagi. Saya memutuskan untuk memakai foldable bag yang saya bawa dari Indonesia yang ukurannya cukup besar. Bahannya tipis, tapi kalau hanya untuk bawa baju tidak mungkin robek karena ringan, pikir saya. Saya berencana bawa tas itu ke bagasi cabin.

Penerbangan saya dijadwalkan berangkat pada jam 3 pagi. Sementara pada siang harinya saya dan Gita akan pergi ke Asakusa untuk jalan-jalan dan makan ramen di Naritaya Halal Ramen Shop. Karena dari apato Mba Wewen menuju ke bandara Haneda cukup memakan waktu, belum lagi dari stasiun Nagatsuta ke apato yang harus berjalan jauh dan naik turun tangga, jadi saya pikir tidak mungkin kalau siangnya saya jalan-jalan dulu di Asakusa, lalu kembali ke apato untuk ambil tas bawaan saya baru berangakat ke Haneda. Menghabiskan waktu dan tenaga karena Asakusa itu letaknya ada di tengah-tengah antara apato dan Airport. Karena alasan itu, saya putuskan untuk langsung ke Haneda dari Asakusa dan tidak kembali ke Yokohama dulu. Saya membawa barang yang sudah saya pack di foldable bag berwarna pink, seberat 7 kg itu ke Asakusa. Dan sisanya ada di backpack saya untuk nantinya ketika kami jalan-jalan barang-barang itu akan dititipkan di loker di stasiun metro Asakusa.

Gita berangkat ke Shibuya pada pagi hari untuk berbelanja (lagi) saat saya masih sibuk packing. Kami janjian untuk bertemu di Shibuya di depan patung Hachiko pada jam 1 siang untuk pergi ke Asakusa bersama. Dari apato Mba Wewen saya gendong foldable bag saya yang berat itu di depan dada dengan dua tangan saling menggenggam persis seperti sedang menggendong karung beras. Kalau tasnya di jinjing saya takut kainnya sobek. Naik tangga adalah tantangan paling berat bagi saya, sampai-sampai dari apato ke stasiun saya harus berhenti beberapa kali untuk duduk di anak tangga demi melemaskan tangan yang mulai nyeri. Beruntunglah di jalan menuju stasiun Nagatsuta ada mbak-mbak baik hati yang mau bantuin bawain tas saya yang satunya lagi karena ia juga akan pergi ke stasiun. Di dalam metro saya baru bisa meletakan tasnya di lantai kereta dan mengistirahatkan tangan saya yang gemeteran.

Persis di samping patung Hachiko, saya dan tas saya menunggu Gita selesai berbelanja. Hachiko, patung anjing legendaris yang populer di kalangan turis terletak tepat di samping stasiun Shibuya. Saat itu pengunjung ramai berfoto dengan Hachiko sementara saya hanya bisa duduk dengan wajah memelas dengan memeluk tas pink saya, wajah saya sama sedihnya dengan Hachiko karena tangan saya mulai tremor. Setelah Gita datang dengan tas-tas belanjaanya, lanjutlah saya membawa tas itu ke Asakusa dengan bantuan Gita. Kami langsung mencari loker terdekat di stasiun Asakusa untuk menitipkan tas saya dan barang belanjaan Gita. Lega rasanya tangan ini bisa jalan-jalan santai tanpa beban.

Asakusa dan Tokyo Skytree

Seharian saya puas makan ramen halal di Naritaya, berkeliling di kuil Sesonji, berdiri tepat di bawah Kaminarimon (lampion raksasa sebagai simbol Asakusa dan pintu masuk kuil Sesonji) lalu diakhiri dengan berfoto di Tokyo Skytree dari jauh menutup perjalanan saya di Jepang. Tapi perjuangan menggendong tas belum juga berakhir. Tas karung saya sudah menunggu di loker untuk saya gendong seorang diri ke Airport karena Gita harus pulang ke Yokohama.

Dengan sisa-sisa tenaga saya gendong lagi tas yang lebih mirip karung beras itu dari Asakusa sampai ke airport. Sampai pada akhirnya saya menemukan sebuah troli di depan lift di bandara Haneda dan bisa meletakan tas besar saya di atasnya. Sun sayang untuk siapapun penemu troli pada jaman dulu karena mengangkat beban saya dengan seketika :*. Boarding, naik pesawat, taruh tas di cabin, langsung saya tidur tak sadarkan diri di bangku pesawat, bahkan saking lelahnya saya tidak ingat kapan pesawat take off, saat bangun tau-tau saya sudah landing di Incheon. Lagipula penerbangan Tokyo-Seoul memang hanya berdurasi 2 jam saja.

Ini penampakan tas terkutuk yang saya jadikan sandara kaki.

Tapi ups jangan senang dulu. Dari Incheon airport ke tempat saya menginap di daerah Unnam-dong Unseo saya masih harus menggendong tas itu lagi! Walaupun hanya berjarak dua stasiun saja dari Incheon, saya tetap harus naik bus ke sana. Dan saat itu seperti belum cukup penderitaan saya, baru satu langkah saya keluar stasiun saya langsung disambut hujan!!! #cobaantiadahenti. Saya jadi harus menggendong tas itu dengan menyelipkan payung ke tengah-tengah tas dan badan agar tak kehujanan. Yang pada akhirnya saya basah kuyup juga karena metode saya tidak berhasil. Sungguh setelah sampai tempat saya menginap di Korea, saya langsung tepar, tidur selama berjam-jam dan bangun hanya karena lapar.

Paat saat saya pulang dari Korea, saya membeli koper baru yang ukuran cabin size karena sudah tak sanggup lagi gendong-gendong tas besar. Dan akhirnya saya juga beli bagasi lagi di airport yang harganya lets say lebih mahal dari tiket pesawatnya. Hal ini dikarena saya juga bawa banyak make up titipan teman saya dan semuanya berbentuk cair yang nggak boleh di bawa ke dalam bagasi cabin. Untungnya teman saya itu membayar setengah harga dari bagasinya, jadi nggak ngenes-ngenes banget cerita saya.

Pelajaran yang dapat di petik dari pengalaman saya adalah; kalau naik budget airline seperti AirAsia saat booking tiket, belilah bagasi dan makanan via web, karena percayalah, dengan membeli di awal sudah menghemat tenaga, uang dan pikiran kecuali kalau memang berencana membawa sedikit barang dengan backpack. Sepanjang perjalanan  saya memikirkan cara beli bagasi online yang pada akhirnya nggak saya beli karena keasikan jalan-jalan. Ujung-ujungnya saya harus membeli bagasi tambahan di airport dan mendapat harga yang super duper mahal itu. Ujung-ujungnya juga pengeluaran saya jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan, benar-benar overbudget. Mau ngirit malah ngorot. Jadi percayalah saudaraku atas nasihat yang saya berikan tadi…saya sudah merasakan bagaimana rasanya disiksa oleh sebuah tas sebesar karung di dua negara sekaligus.#dramataskarungJepangKorea

Nasi Jinggo di Pantai Kuta dan Pasir Ketumbar di Gunung Payung


Dari berbagai perjalanan yang saya lakukan, ada kalanya saya berharap bisa betah di satu tempat yang saya kunjungi, lalu mengangkut semua barang saya ke tempat itu. Entah bagaimana saya bisa hidup di sana, itu urusan nanti.

Awal February 2017, setelah resign dari bank saya berwacana untuk menjadikan Bali sebagai rumah. Mempersilakan Bali untuk meberikan opportunities yang ia punya kepada saya untuk saya jadikan tantangan hidup agar hidup saya memiliki lebih banyak cerita. Saya  hanya beli one way ticket tujuan Ngurah Rai dan kalau dapat kerja di Bali saya mau kerja dan tinggal di sini saja.  Because sometimes spontaneity is the best kind of adventure. 

Kenapa Bali? Karena salah satu impian saya adalah untuk tinggal di tepi pantai, biar saya bisa main air terus. Atau biar saya bisa banyak belajar tentang budaya dan pariwisata Bali, atau mungkin saat itu saya hanya ingin pergi dari kemacetan dan kebisingan Jakarta. Itu rencana awal saya. Saya bahkan sudah menyewa kosan di daerah Denpasar dan membuat kartu tinggal sementara, biar nggak ditangkap Pecalang (Polisi adat Bali) kata Pak Wayan penjaga kosan.

Di Bali saya bertemu teman baru, namanya Kinan dan Emil. Mereka ini yang mengajak saya untuk menjelajah Bali layaknya orang lokal dan membuat Bali memiliki kesan yang berbeda dari sebelumnya. Walaupun sama-sama perantau dan baru tiga bulan di pulau dewata tetapi rasanya mereka sudah banyak tahu dan paham betul cara menikmati pulau ini dengan baik dan benar. Jadi Emil dan Kinan mempunyai tugas untuk mengakrabkan saya dengan Bali.

Suatu sore di bulan Februari ketika tanah masih basah karena hujan seharian, perkenalan saya dengan Emil yang bekerja di Starbucks Kuta dimulai. Perempuan yang berpenampilan tomboy ini memberi saya segelas green tea latte sebagai welcome drink dengan tulisan -Anki welcome to Baley 🙂

Malamnya Emil dan Kinan mengajak saya dan dua teman lainnya untuk makan nasi jinggo yang kami beli di jalanan Kuta dengan harga 7000 rupiah saja satu bungkusnya. Dengan perut kelapaan kami lalu membawa makan malam kami ke pinggir pantai Kuta yang gelap. Tanpa ragu kami pun makan di tengah pantai hanya diterangi oleh cahaya handphone dan ditemani suara deburan ombak di kejauhan. Romantis kan? Hanya saja sepertinya banyak pasir yang masuk ke dalam mulut saya saat itu. Saya sudah beberapa kali ke pantai Kuta dan bermain dengan pasirnya, tapi baru kali ini pasir-pasir itu saya campur dengan mie bumbu kecap dan potongan daging sapi lalu saya makan. Sedapp!

Suatu malam, Emil yang hobi berolahraga mengajak saya bermain batminton di sebuah stadion di Jimbaran. Dengan mengenakan sepatu olahraga dan bandana, saya menunggu teman saya ini di depan Mall Galeri Kuta. Sampai di stadion saya langsung dikenalkan dengan banyak mas-mas ketje. Salah satunya bernama Mas Raden. Obrolan pun berlangsung ringan di antara kami. Pria yang sudah satu tahun merantau di Bali ini bercerita saat pertama kali ia datang ke Bali, bagaimana susahnya untuk mendapatan pekerjaan yang bagus. “Kita harus berani down grade dulu mbak  ujar pria yang pernah bekerja di hotel sebagai penjaga kolam renang ini. “Intinya kalau mau betah di Bali kasihlah Bali waktu” lanjut Raden yang logatnya sudah seperti orang Bali asli sambil memainkan raketnya. Ia menceritakan proses yang harus ia lalui sampai akhirnya mendapat pekerjaan yang lebih baik dan bisa menikmati setiap inchi dari pulau ini. Raden juga bercerita tentang open trip yang dia ikuti, untuk naik gunung atau menyebrang ke pulau-pulau kecil di pinggiran Bali kalo ia sedang senggang. Indah sekali ya hidupnya penuh tantangan.

Yang saya senangi dari teman-teman baru saya ini adalah mereka sepertinya tahu betul bagaimana cara menikmati Bali tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Cocok untuk budget traveler seperti saya.

Emil dan Kinan kadang mengirim pesan pada siang bolong saat saya sedang tidur siang “Ki, ayo renang di Sanur”. Saya yang masih mengantuk langsung terbangun dan mengemas baju renang ke dalam tas lalu menuju ke Sundamala tempat kami janjian.

Langit sanur saat itu sedikit kelabu dengan angin yang tidak begitu kencang. Pengunjungnya pun tidak terlalu banyak, hanya ada private wedding yang tidak terlalu ramai di salah satu restaurant di pinggir pantai dan beberapa bule yang sedang mengajak anjingnya jalan-jalan.

Selama dua jam kami bertiga mengambang di laut sambil berbincang ngalor ngidul dan main pancasila ada lima dengan menebak judul-judul iklan. Memandangi langit yang mulai gelap dan matahari yang terus bergerak ke arah barat. Entah karena sedang beruntung dengan suasana Sanur, segerombolan balon berwarna-warni pun diterbangkan di atas kepala kami oleh pengantin yang baru menikah menambah keindahan Sanur sore itu. Setelah puas berenang kami langsung makan di warung Jawa yang terletak di ujung gang seharga 40.000 bertiga pakai ayam plus kerupuk dan es teh manis.

“Ki lo harus ke Pantai Gunung Payung, itu bagus banget” kata Emil sewaktu saya menunggu shiftnya selesai di Starbucks. Tanpa bertanya “Emang kenapa?, Apa yang bagus di sana, itu di daerah mana? ” saya sih langsung jawab saja”Ayok!”. Karena selama saya di Bali, Emil belum pernah gagal menunjukan tempat-tempat keren di sini.

Jadilah kami naik motor menuju pantai yang menurut Emil bagus banget. Perjalanan yang memakan waktu selama 30 menit terbayarkan oleh keindahan pantai yang luar biasa. Airnya yang biru terang, pasir putihnya yang berbentuk seperti butiran ketumbar, dan hamparan pohon-pohon hijau yang berada di pesisirnya membuat tempat ini benar-benar terlihat seperti pantai yang ada di film animasi Moana. Pantainya pun masih sepi jadi bisa kami nikmati seperti pantai milik pribadi.

Lokasinya dekat dengan pantai Pandawa di daerah selatan. Yang membuat Pantai Gunung Payung masih belum terlalu populer di kalangan turis adalah akses untuk menuju pantai ini masih sulit. Tidak ada akses kendaraan untuk sampai ke pantainya. Sehingga kita harus berjalan dan menuruni ratusan anak tangga selama kurang lebih 20 menit hingga mencapai bibir pantai. Mungkin hal ini yang membuat turis lebih memilih untuk pergi ke Pantai Pandawa yang tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk sampai di sana dan menikmati keindahannya.

Namun, walaupun saya harus mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera untuk sampai ke Gunung Payung, tapi saya akui pemandanganya worth it banget.  Terharu saya, Emil yang saat itu sedang sakit perut sehingga ia harus berhenti di beberapa anak tangga untuk istirahat, rela tertatih tatih nganterin saya ke tempat sebagus ini. Nggak pake basa basi saya dan Emil langsung saja nyebur ke laut dan kali ini kami berenang lebih lama daripada waktu di Sanur.

Saya berbaring di bibir pantai, menjadikan hamparan pasir sebagai alas tidur sementara ombak-ombak maju mundur menyelimuti tubuh  saya. Untuk beberapa saat saya memejamkan mata dan membiarkan pikiran saya berkelana ke dasar lautan dan diri saya bersatu dengan alam. Ya Alam, sesuatu yang jauh lebih besar dari segala masalah dan urusan manusia. Membuat saya merasa kecil berada di tengah-tengahnya. Rasanya menyenangkan untuk sejenak menyingkir  dari keriuhan yang biasanya menyita waktu dan pikiran saya. 

Saya sudah seperti Moana belum?

Walaupun pada akhirnya saya kembali ke Jakarta dan tidak memberi waktu kepada Bali seperti yang Raden sarankan, tapi kedatangan saya ke Bali kali ini adalah yang paling bermakna daripada kunjungan-kunjungan saya sebelumnya. Saya tidak menghabiskan waktu di pantai Kuta hanya untuk foto-foto, atau menghabiskan uang saya di Sukowati, atau mengunjungi Tanah Lot dan Bedugul, saya bahkan tidak ingat untuk membeli kain Bali yang saya sukai, tapi kali ini saya benar-benar quality time dengan pantai, laut, pasir dan Bali. Merasakan rasanya menyatu dengan alam yang sesungguhnya.

Perjalanan kali ini mungkin hanyalah salah satu upaya saya untuk mencari ‘rumah’ untuk tinggal tetapi berakhir dengan another sweet escape di mana saya kembali merasakan ketenangan yang diberikan oleh alam. Bagaimana hanya dengan bersentuhan dengan air laut energi negative saya rasanya terserap jauh ke dasar samudera dan digantikan oleh energi positive yang ditiupkan pelan oleh angin laut ke wajah saya yang  mengembangkan senyuman tiada henti. Rasanya seperti bertemu dengan teman lama.

Dear old friend, saya janji akan sering-sering mengadakan reuni lagi denganmu. Karena toh saya tidak bisa jauh-jauh darimu.

Terimakasih juga untuk Kinan dan Emil, tanpa kalian Bali tidak akan seindah ini. Nanti saya pasti datang lagi untuk ketemu kalian dan kala itu kalian harus ajak saya berendam di Batur dan menyelam di Nusa Penida!!

To the right direction

-Take chances. Make mistakes. That’s how you grow. Pain nourishes your courage. You have to fail in order to practice of being brave – Mary Tayler Moore

Bulan Januari lalu, saya ceritanya ingin memulai hidup baru, mengoreksi apa yang salah dengan hidup saya yang lama.  Saya baru saja resign dari salah satu Bank swasta di kawasan Sudirman, Jakarta karena pekerjaan sebagai banker tidak sesuai dengan passion saya.

Dulu saat lulus kuliah saya tidak pilih-pilih pekerjaan, saya sama sekali tidak idealis. Pertimbangan saya kala itu hanya jika gaji sudah cocok, langsung saya ambil. Dengan mengabaikan passion dan minat, saya pun akhirnya menerima pekerjaan sebagai pegawai Bank.

Untuk seorang yang tidak bisa diam dan selalu membutuhkan tantangan baru seperti saya, saya merasa terbebani dengan pekerjaan ini. Setelah dua tahun bekerja hati saya pun menggugat. Sebenarnya lingkungan tempat saya bekerja menyenangkan, teman-temanya baik dan ramah, bosnya pun super kece dan super baik, pendapatannya juga lumayan, tapi entah kenapa saya tetap merasa berada di tempat yang salah. Yang saya tahu zona nyaman ini membuat saya merasa kurang nyaman dan sulit untuk menjadi diri sendiri.

Because life is short, so you might as well be your own self in this short life.

Kalau kata Lenka “it’s too much, yeah it’s a lot to be something I’m not”.

Karakter saya yang pecicilan, suka tantangan, sok ngide, kaki gatal rasanya kalau diam di suatu tempat terlalu lama, senang bertemu dan berdiskusi dengan orang membuat saya tidak betah jika ditempatkan di pekerjaan yang mengharuskan saya untuk duduk selama delapan jam sehari untuk mengerjakan hal yang sama setiap harinya.

Ditambah lagi saya sedang dalam masa pemulihan, bukan dari narkoba atau kegagalan cinta, tapi dari kegagalan mendapat beasiswa S2 yang saya impikan dan perjuangkan sepenuh hati. Sebenarnya saya sudah ikhlas dengan hasilnya, tetapi kalau mengingat kembali perjuangan yang saya lakukan beberapa bulan lalu dengan mencurahkan seluruh waktu, uang, tenaga, bahkan emosi (apalagi untuk anak yang otak dan dompet pas-pasan seperti saya) kadang kegagalan itu berasa nyesek juga.

Waktu: saya harus les IELTS setiap malam sepulang kerja (ini pertama kalinya saya tes IELTS, jadi saya pikir harus ada persiapan khusus sebelum tes) membuat jam tidur saya berkurang drastis, mengurus persyaratan lain kesana-kemari yang menghabiskan seluruh jatah cuti saya, belajar di rumah saat weekend, juga melakukan research tentang Universitas dengan jurusan yang saya pilih di sela-sela jam kantor.

Uang: untuk les IELTS biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit dan harus menguras tabungan untuk biaya les dan tesnya, serta tes-tes kesehatan lainnya yang diajukan oleh panitia penerima beasiswa sebagai syarat.

Tenaga: dibutuhkan tenaga ekstra untuk belajar dan mondar-mandir dari kampus, kantor, tempat les, edu fair, dan tempat-tempat lainnya yang harus saya datangi dan hal yang harus saya lakukan untuk memenuhi semua persyaratan sebelum deadline.

Dan yang terakhir menguras emosi: Mengapa emosi bisa terkuras. Karena berharap akan sesuatu yang besar itu juga menguras emosi.

Contohnya ketika saya melihat hasil IELTS. Entah mengapa saya jadi nggak pede sendiri. Hanya untuk membuka amplop hasil skor nya saja saya musti tarik nafas hembuskan lagi lalu tarik lagi selama beberapa jam. Sampai pada akhirnya teman saya si Ebitamon gemes banget ngeliatnya dan merebut amplop itu lalu memberitahu hasilnya pada saya (yang ternyata memenuhi syarat). Lalu mengecek email setiap hari berharap ada pengumuman penerimaan dari kampus-kampus yang saya daftar untuk dapat Letter of Acceptance atau LOA, menghadapi tiga orang interviewer yang bergelar profesor di tahap wawancara yang mirip dementor karena dengan secepat kilat menyerap seluruh kebahagiaan saya (rasanya saya ingin kabur saja dari ruangan itu karena terlalu gugup dan jadi ngerasa seperti butiran debu di depan mereka), lalu yang paling berat adalah saat-saat saya harus menunggu pengumuman akhir yang bikin saya nggak bisa tidur selama beberapa hari sebelum dan sesudah pengumuman karena ternyata hasilnya tidak seperti yang saya harapkan.

Walaupun nggak belum jadi sekolah master di Belanda saya tetap banyak belajar dari proses pendaftarannya.  Saya merasa mendapatkan banyak pelajaran dari perjuangan ini. Pelajaran akan perjuangan. Pelajaran untuk mempersiapkan dengan matang segala hal. Jika menginginkan sesuatu segalanya harus dipersiapkan dan diperjuangkan sepenuh hati, nggak bisa setengah-setengah. Prinsip saya we should really do what necessary to get what we want.

Walaupun pada akhirnya saya gagal mendapatkan beasiswa itu, tetapi setidaknya saya tidak pernah gagal dalam berusaha, tidak juga menyerah apalagi takut untuk memperjuangkan. Dan sampai sekarang pun saya belum menyerah, dan tidak merencanakan untuk menyerah, nanti pasti akan saya coba lagi. #antikapok.

Tapi sekarang ini rasanya saya benar-benar butuh liburan untuk menjernihkan pikiran, mengistirahatkan otak, lalu menentukan akan kemana setelah ini, to the right direction hopefully. Biasanya orang-orang resign setelah menemukan pekerjaan baru, kalau saya memutuskan untuk mengambil pause dulu sebelum memulai lagi.  Ada yang berpikir ini keputusan bodoh, tapi buat saya ini keputusan berani yang memang harus diambil. Membenarkan sesuatu yang kurang pas. Karena saya tidak mau salah langkah lagi.

Saya memutuskan untuk rehat sejenak dan jalan-jalan dulu, yuhuu! Waktu masih bekerja saya juga sering berlibur, tapi kali ini saya tidak ingin deadline pekerjaan yang belum selesai atau pikiran bahwa Senin depan harus masuk mengganggu liburan saya. Kali ini saya ingin fokus melakukan apa yang membuat saya bahagia. Live in the moment kalo kata orang-orang. Sambil mencari tahu apa yang saya mau.

Saya putuskan untuk memulai hidup baru dengan membuat blog yang berisi perjalanan yang sudah saya lalui dan tantangan, hingga pelajaran yang saya dapat dari perjalanan-perjalanan itu.

Saya bukan siapa-siapa, bukan orang terkenal atau orang yang berprestasi, tetapi saya berharap cerita-cerita saya juga bisa menginspirasi. Enjoy!