Hope.

San Francisco, 16 October 2021

Kemarin saya ngobrol banyak dengan Gigih, teman baik saya di Melbourne. Sudah lama kami nggak ngobrol karena kesibukannya kerja dan sekolah. Biasanya kami akan catch up seminggu sekali untuk menanyakan kabar satu sama lain. Sudah lebih dari tiga tahun, Gigih menjadi support system yang baik bagi saya. And I am very grateful for that. Karena a healthy friendship is one of our basic human needs.

Gigih sedang dikarantina sekarang, karena rekan kerjanya kena covid. Karena itu kami bisa ngobrol banyak.

Entah sedang ngobrol apa saya tiba-tiba saja memberinya rekomendasi tontonan Anthony Bourdain: Parts Unknown. Travel program yang mengeksplor budaya, kuliner dan kondisi ekonomi, politik serta manusia di sebuah negara. Belakangan saya sedang senang menonton seriesnya karena komentarnya yang jujur, ringan dan blak-blakan. Pada tahun 2018, Anthony Bourdain meninggal pada usia 61 tahun di Perancis. Penyebabnya adalah bunuh diri. Karena tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan, kematiannya disimpulkan sebagai impulsive act.

Hal ini mengingatkan kami pada seorang teman yang pernah membagikan hal yang kurang lebih sama. Ia berkata, kalau nanti ia menginjak usia 60 tahun, dan belum meninggal, ia mungkin akan mengakhiri hidupnya sendiri. Atau ada teman lain yang bilang kalau euthanasia (the painless killing of a patient suffering from an incurable and painful disease or in an irreversible coma) legal di Indonesia dan ia punya uang untuk membayarnya, ia mungkin akan minta disuntik mati, atau pergi ke negara yang melegalkannya.

Dulu, saya setuju dengan mereka. Saya pikir, hidup ini bukan pilihan semua orang. Saya tidak memilih untuk dilahirkan, yet I am here. Dulu kalau ditanya ingin jadi apa, saya pasti jawab ingin jadi debu, small, insignificant and feelingless. Atau kalau bisa memilih saya tidak mau dilahirkan sama sekali, hidup terlalu merepotkan, terlalu banyak kekecewaan dan kehilangan.

Semua pikiran itu tak bisa saya lenyapkan begitu saja. I felt hopeless, like nothing in this world could save me. Easy and happy life sound so unrealistic for me. Mungkin dulu ekspektasi saya terhadap hidup juga terlalu berlebihan. But I simply felt unwanted and hopeless and nothing couldn’t shake that feeling away. Sampai saya berfikir bahwa kematian mungkin lebih mudah. Gigih adalah saksi sejarah perjalan saya. I was in a very dark place, saya bahkan menulis surat panjang lebar kepada Gigih tentang semua perasaan buruk yang membuat saya ingin pergi saja.

Tapi semua itu terjadi ketika saya belum memutuskan untuk menolong diri saya sendiri. Saya membiarkan diri saya tenggelam ke dalam semua kenestapaan hidup yang membuat saya merasa tak ada artinya lagi untuk berjuang. Toh orang-orang tetap akan jahat kepada saya. Semua itu terjadi ketika saya belum tahu bahwa saya memang memiliki kondisi mental yang tak bisa saya kontrol begitu saja. Sebelum saya tahu kalau saya ini memiliki Bipolar disorder. Hidup kala itu sungguh melelahkan. Dipermainkan oleh pikiran sendiri sungguh melelahkan.

Sudah lama saya tidak merasakan depresi berminggu-minggu atau berbulan-bulan sampai saya ingin menyerah berkali-kali seperti dulu. Ketika saya sudah merasa depressive episode akan datang, saya tahu apa yang harus saya lakukan. Hidup terasa lebih masuk akal sekarang dengan bantuan therapy dan medication. Somehow saya ingin berada di masa depan dan keinginan untuk menyerah begitu saja sudah jarang datang menghantui malam-malam saya.

Tentu saja perasaan stabil seperti ini tak serta merta saya dapatkan jika saya diam saja dan membiarkan keadaan saya memburuk kala itu. Good support system yang mendorong saya untuk mencari bantuan professional, yang mendengar, yang menjaga yang membuat saya bisa bertahan sampai saat ini. Somehow kata ‘hope’ itu masuk akal. Somehow I can finally see the light at the end of the very long and dark tunnel I used to be in. Somehow saya sudah berdamai dengan hidup. Somehow saya ingin memperjuangkan hidup saya lagi. Saya ingin berjuang lagi. Kalau ditanya “Apa kamu sekarang sudah bahagia ki?”. Jawaban saya “I feel better and I am stable, and I want to live, that is all I know for now”.

Memiliki support system yang baik juga membuat saya merasa kalau I am worthy of love. Despite all of the people who hurted me, rejected, left and abandoned my feelings. Masih ada segelintir orang yang tulus menjaga dan merawat. And that is more than enough for now.

Good support system is a crucial thing in terms of survival. Especially with my condition. Saya sering lupa akan hal itu, apalagi untuk mengapresiasi mereka. And now that I am stable I can see it clearly now, that I am loved and I am absolutely beyond blessed to surrounded my self with people like them.

Kalau ada orang-orang yang pernah merasakan hal saya rasakan dulu, mungkin sudah waktunya untuk menolong diri sendiri. There is no shame in that. To seek for help, to seek for your own support system. I know that life sometimes doesn’t make any sense, but it would be nice if we don’t beat our self up with that thought and only that though. Because there is still so many things in life that still does make sense. Like a very few people that stick around and keep believe in you even if you don’t believe in yourself.

And it might be the right time to learn to appreciate them, and to stop focusing on the people who hurt you. And appreciate some more things in you. Appreciate yourself for still fighting even tho it wasn’t easy, appreciate yourself who have come this far, appreciate people around you stand by you and fight with you, appreciate every single good thing that came into your life, every good memories. And somehow little by little, you’ll see that life starting to be kinder and kinder as you start to learn to be more gentle to handle yourself.

And yes, despite all the bad things that happened in your life, all the betrayal, all the losses you had. Somehow life still whisper to your goddamn stubborn ear every single night that there is still hope around the corner. And it’s totally up to you, to come closer to it or not.

Sampai jumpa lagi.

Sudah lama nggak menulis di blog ini. Terlalu banyak yang terjadi beberapa bulan ini.

Terlalu banyak yang berubah, terlalu banyak yang pergi.

Bulan lalu, Adit pergi.

Kabar itu datang tiba-tiba. Ketika saya dan Baits sedang berada di Seminyak.

Orang-orang yang sayang Adit pasti setuju, bahwa kabar ini terasa seperti petir yang menyambar di hari yang cerah.

Selama tiga hari saya tidak tahu caranya untuk berhenti menangisi kepergian Adit yang mendadak.

Kami sudah lama tidak berbicara. Mungkin sudah lebih dari satu tahun. Tapi rasa sakitnya tetap menyesakkan.

Terakhir kali saya dan Adit bertemu di Ubud. Tahun 2019. Waktu itu ia baru putus dari pacarnya.

Kami berbincang banyak. Makan Nasi Kedewatan Bu Mangku dan ice cream.

Adit yang baru putus, tapi saya yang banyak menceritakan tentang patah hati saya sendiri. Tapi tentu saja, Adit duduk dan mendengarkan saya.

Saya janji akan antar Adit ke airport pagi itu, tapi saya lagi-lagi masih sibuk meratapi hati yang remuk.

Hari kepergian Adit, saya duduk di pantai Batu Bolong sendirian.

Mengucapkan selamat tinggal kepada matahari yang tenggelam sore itu seolah-olah itu Adit.

Dulu saya sering kirim pesan ke Adit kalau lagi-lagi saya sedang patah hati.

Dengan quotes-quotesnya ia selalu berhasil membuat saya merasa lebih baik. Atau dengan editan foto dirinya yang ia beri tulisan di bawah fotonya. “Kemarin janji nggak nangis lagi”. Atau dengan cerita panjangnya tentang pengalamannya sendiri menyembuhkan hatinya.

“Love yourself first Ki, then others” katanya suatu hari.

Hari itu hati saya lagi-lagi patah. Tapi bukan lagi karena kisah cinta monyet yang tak ada ujungnya. Tapi karena kawan baik saya pergi.

Dit, dulu kalau saya mau belajar untuk merelakan orang, kamu sepertinya orang paling tepat untuk didatangi

Sekarang, kalau orang yang harus saya relakan adalah kamu, kemana saya harus pergi?

Sudah satu bulan lebih sejak Adit pergi.

Dit, terimakasih sudah mengajari bahwa hidup itu memang singkat.

Aku dan Ebby tentu saja belum bisa ikhlas sepenuhnya.

Kadang-kadang kami masih rindu, diam-diam kami masih sering menangisimu tengah malam.
Jadi gini ya rasanya rindu yang tak terbalas.

Kadang-kadang kami masih suka berpura-pura bahwa kamu hanya sedang pergi ke Jepang.

Tempat yang sering kamu sebut rumah. Kamu pasti sedang berada disana.

Ebby baru melahirkan bayi laki-lakinya kemarin. Namanya Han.

Besok-besok, kalau luka kehilanganmu sudah sedikit mengering, kami janji akan membawa Han bertemu kamu, pamannya yang belum sempat melihatnya, di tempat peristirahatan terakhirmu.

Dit, terima kasih sudah hadir di hidup kami.

Terima kasih untuk setiap makan siang bersama ketika kita masih sama-sama berjuang di Jakarta.

Terima kasih sudah mengajari kami bahwa kehilangan itu berat rasanya.

Tapi kamu juga yang mengajari kami untuk merawat yang masih ada.

Dan untuk merelakanmu pergi kali ini, kemudian melanjutkan hidup kami di sini.

Karena kamu pasti sudah baik-baik saja di sana.

Sampai jumpa lagi Adit.

Salam rindu

Angky

Honesty

Life obviously isn’t easy.

It’s cruel and messy 

I got tired sometimes, too tired to believe that my life is going somewhere.

I want to say to my mom, that I’m not sorry for not being the daughter you always wanted me to be.

For always choosing the opposite direction that you told me to go.

I want to say to my dad, that sometimes I’m tired

For having to worry about you all the time. 

But I still love you.

To my brother. I’m still mad at you for yelling me in the train in 2015 

And made me feel worthless

But I want to say thank you, because since that day

I never let anyone treat me like that again. 

To my stepsister, I hope karma hits you in the face like a thunderbolt.

To you, the one that i was crazy about

Thank you for teaching me so many lessons.

Thank you for making me feel like the luckiest and the stupidest girl in the world at the same time

And sorry for leaving you without goodbye

But you deserved it.

And yes, I still miss you. 

To my real friends, thank you for staying

Even though I disappeared from you guys way too many times.

To God. I’m upset with you sometimes, because you make me feel lonely all the time

To myself, thank you for being honest about what you’re feeling. 

Even though it sounds like crap to people who read it.

Blog Night Call with Angky Ridayana

Akhir-akhir ini saya sedang keasyikan membuat podcast di Spotify. Semua berawal ketika saya dan sahabat saya Ebby lagi sering-seringnya video call setiap malam. Bahasannya ngalor ngidur nggak jelas, apa yang terjadi hari itu kami diskusikan. Dulu, waktu kami masih tinggal bareng. Setiap pulang kantor saya, Ebby dan Eka sering ngumpul di ruang tamu dan ngobrolin Jakarta yang lagi ribut dengan pemilihan Gubernur. Kadang diskusi kami bisa seru banget sampai saya berharap orang lain bisa dengar pendapat teman-teman saya ini yang kadang kayak orang bener.

Pada suatu malam saya dan Ebby memutuskan untuk ngobrol dengan tema ‘Membeli mobil pertama untuk kaum millenials”. Diskusi kami malam itu lumayan panjang. Saya iseng saja merekam diskusi kami malam itu di voice notes dan memutarnya kembali bersama Ebby. Ternyata kalau didengarkan lagi suara kami oke juga kayak penyiar berita kalau kata Ibu saya sendiri. Disitulah Ebby mulai ngide “Ki buat podcast aja!” Malam itu juga saya googling cara buat podcast cuma modal Hape dan ternyata semudah itu.

Sampai tulisan ini saya publish, saya sudah mempublish 15 episodes di podcast saya di Spotify. Di setiap episode saya mengundang teman-teman saya untuk memjadi nara sumber, dari membicarakan tentang travelling, kehidupan Work and Holiday di Australia, mental health, sampai yang terakhir risk management.

Yang mau cek di spotify bisa dibuaka di link berikut https://open.spotify.com/show/0XbAiBOwuMlhz5VRHYvXRm

Teman-teman dekat saya tentu saja support dan mulai memberi masukan-masukan agar podcast saya menjadi lebih baik lagi. And it feels great to have some feedback. Namun karena feedbacknya hanya bisa saya dengar dari teman saya karena di spotify tidak ada kolom comment saya jadi mikir gimana caranya biar orang-orang bisa comment tentang contentnya atau ya kasih masukan kalau mau dengar tema yang lain. Ketika saya lagi mencari cara gimana caranya biar orang bisa komenin podcast saya seperti orang bisa comment di blog saya, disitulah ilham muncul. Akun podcast saya merekomendasikan untuk me-linkan podcast dengan wordpress. Karena itu hari ini saya mau memperkenalkan akun wordpress saya yang berisi tentang podcast saya. Bisa didengarkan disana dan diberi komen di sana juga.

Berikut link blog Night Call with Angky Ridayana

https://nightcallwithangkyridayana.wordpress.com/?ref=spelling

Gitu aja cerita hari ini guys semoga informasi yang saya diskusikan bisa berguna ya buat kalian.

Thank you

Bipolarity

Two months ago, my ex-boyfriend came to pick me up when I was just back from Turkey. He was my high school sweetheart and now he became my best friend for more than thirteen years. Although our relationship sounds strange to some people, our friendship is genuine. As one of my oldest friends he knows all my darkest secrets and became my support system especially when my parents got divorced. He has a good life now with a very kind girlfriend. I couldn’t be happier for him. 

I told him about my road trip in Turkey. About the amazing old buildings, cultures and history. All in one place. I told him that I wanted to move to Istanbul and leave Australia, the country that I have been living in for the past two years. 

“You always so excited when you just came back from a new place and wanted to move there straight away. But you are usually very disappointed after you tried to live there, it’s like you have a pattern. It happened when you moved to Depok the first time, Jakarta, Bali, then Australia”

I got upset “So you think that it is wrong for me to be excited? It’s easy for you to say that since your parents are still together and you have ‘home’ to go back to, but I don’t. If I must, I would travel the whole world to find it. From all the people I know I thought you would be the one who understand since you know all my struggles”

“I didn’t say that it’s a bad thing, and it’s completely okay if you want to travel the world to find your home. It’s just that I noticed you have this pattern that’s all. I just don’t want you to be too disappointed later”

I felt judged. I went home crying, deleted his number, swear to God, I would never tell him anything again. 

A week ago, someone convinced me to go to a mental health centre. I’ve been feeling strange with myself for years. I was constantly upset with everything and everyone. Small conflicts could lead into weeks of depression. My reactions to conflict always disappeared and pushed people away. I would spend weeks in a hotel room that I rent just to cry my eyes out. I didn’t even know how to function well as a human being, and it bothers me. 

I’ve been asking myself, am I just being hypersensitive? Is it just me that feels this way, or other people too? Why is it so hard for me to control my emotions? 

The psychiatrist asked me a lot of questions. How am I feeling right now, how’s my sleep cycle, when did it start, how long did the depression last, were there any suicidal thoughts, what’s the trigger, have I ever experienced getting too excited on something and had too much energy? 

My depression usually lasts for weeks or months before it stops. When something triggered me, I could easily be frustrated to the point where I didn’t feel like life is worthy. I had two suicidal thoughts when my parents got divorced. But there were also times when I couldn’t sleep at night because I was too excited because I had so many ideas in my head. I would stay up all night, doing projects. I was tired but didn’t know how to stop my mind from thinking. 

I feel like riding a roller coaster without a seatbelt on. One second, I’m flying high and then next thing I know I’m falling until I crushed the ground. I was so exhausted from having no control over my emotions. Doctor said that I have symptoms for bipolar disorder because my swing moods become more uncontrollable. I had a few tests after that session that came back positive about the diagnosis. 

Being diagnosed with bipolar was not easy but at the same time liberating. The day my doctor told me that I have bipolar was the day I got all the answers to all my questions. All my confusion and behaviours, all the sleepless nights, all the tantrums I throw to everyone, all the energy in the middle of the night that comes out of nowhere. At least now I know where it came from. At least now I know that this condition has an explanation. At least now I know it has treatments. The most important thing is that it is possible for me to get better. 

I told my ex-boyfriend that I was sorry for being mad at him and explained my condition. After all he has always been the one who was there through my extreme swing moods. He was there watching me making a bunch of impulsive decisions. He was there picking me up every time I came back from a new place and telling him about it. He was there listening to me each time I have depressive episodes. He is still here even though all I did to him was cut him loose. And all he ever wanted from me when he reminded me about the patterns was for me to get help as soon as possible. 

For those who might experience the same. Don’t be afraid to get help. Having been diagnosed with bipolar is not something you should be afraid or ashamed of, it just means that we finally have a chance to relearn about ourselves and how to take care of it. If someone in your circle notices some patterns about your behaviour, please don’t blow them off like I did. Because there are people out there who care a lot about you. Who wants to remind you that you are not alone and want to help you by taking care of you when you find it so hard to do so. The kindest thing you can do to yourself and also to those people is by letting them. 

Selamat bersatu kembali.

2007.

Saya terduduk diam di depan rumah Fatih. Di antara para pelayat lainnya saya mencari-cari sosok Hani, pacar Fatih yang dulu sering mengajak kami semua datang ke rumah ini untuk menjenguk Fatih. Hani belum datang, ia masih ada di kota sebelah untuk menjalani bakti sosial. Anak ini memang periang, bukan hanya wajahnya yang selalu tersenyum dan lembut. Tapi hatinya pun tak kalah lembutnya. Segala macam kegiatan bakti sosial selalu menarik minatnya. Tidak seperti saya si anak pecicilan yang lebih senang ikut tim futsal di sekolah.

Dua minggu lalu, saya dan teman-teman datang ke rumah ini, untuk menjenguk Fatih yang sudah absent selama lebih dari satu bulan. Kanker yang beberapa bulan ini menggerogoti lidahnya semakin membesar. Terakhir kali saya bertemu dengannya, ia sudah tidak bisa berbicara dan harus makan lewat sedotan. Makanannya harus diblender agar bisa ia telan. Fatih adalah salah satu anak pintar di sekolah, ayahnya juga seorang guru di sekolah kami. Kelasnya dan Hani ada disebelah kelas saya. Dari taman sekolah saya sering melihat Fatih dan Hani duduk berdua di depan kelas, bercanda satu sama lain. Selama sakit, Fatih ada di rumahnya. Ibunya sering bercerita bahwa Hani kerap kali menelfon ke rumah mereka, walaupun ia tahu, Fatih tak bisa lagi berbicara dan menjawab ceritanya. Ia biasanya hanya akan mendengarkan Hani berbicara atau bahkan membacakan ayat suci Al-Quran lewat sambungan telfon.

Di deretan bangku pelayat, saya masih duduk tak bersuara. Malam itu Puput menjemput saya di rumah untuk pergi ke rumah Fatih bersama. Untuk mengucapkan selamat jalan pada sosok pendiam dan baik ini. Saya masih duduk sambil menata nafas saya yang masih tersenggal. Di dalam rumah Fatih, Bu Rusmini guru bahasa Inggris yang duduk di sebelah jenazah baru saja membuka kain penutup jenazah Fatih agar kami teman-temannya bisa mengucapkan salam perpisahan. Badannya lebih kurus dari terakhir kami bertemu. Tapi ia terlihat lebih tenang dan damai. Mata saya masih tertuju ke pintu masuk rumah Fatih, ketika seorang perempuan duduk di sebelah saya. Hani duduk disana, diam tanpa air mata. Seorang perempuan lain duduk disampingnya dan memegang pundaknya.

Tangis saya pecah melihat sosok Hani yang terlihat lebih tegar. Hanya satu kata yang bisa terucap dari mulut saya kala itu. “Han….” Tangan saya mengusap-usap punggungnya, ia melirik ke arah saya. Mencoba tegar. Ia kemudian berdiri dan masuk ke dalam rumah Fatih.

***

“Ki mau ikut nggak ke makam Fatih?” tanya Hani dengan senyumnya yang manis. “Hari ini Fatih ulang tahun, aku pengin cabutin rumput di makamnya, ikut yuk” ajaknya ke arah kelas saya.

“Yukk” kata saya cepat. Hari itu, saya, Hani, Wulan dan Indri pergi ke makam almarhum Fatih. Sudah satu bulan Fatih pergi.

Makam Fatih basah, semalaman hujan mengguyur kota kami. Lumpur menempel ke sepatu kami ketika kami jalan di tanah sekitar makam Fatih. Hani mengajak kami untuk membantunya mencabuti ilalang yang mulai tumbuh di sekitar makam pacarnya. Tangannya lincah membersihkan tanah kuburan Fatih dengan cepat. Ia kemudian pergi ke luar makam dan kembali dengan membawa sebuah tanaman kecil yang baru saja ia cerabut dari tanah.

“Lagi musim hujan, takut tanahnya longsor” katanya sambil menanam pohon itu ke atas makam Fatih. Wajahnya masih tersenyum. “Yuk kita doain Fatih”

Dengan kedua tangan yang masih dipenuhi lumpur, Hani mulai memimpin kami untuk mendoakan Fatih. Dalam hati saya berfikir.

This what true love must looks like

I’m glad they found each other while Fatih was still here.

****

Saya sedang menscroll feed instagram ketika saya menemukan foto Hani dengan seorang lelaki. Ia mengumumkan pernikahannya yang baru saja dilangsungkannya. Saya tersenyum lebar. Sudah lama kami tidak bertemu, terakhir pergi bersama mungkin ketika ulang tahun Fatih dan mencabuti rumput di makamnya. Tapi saya selalu mengikuti kehidupannya dari postingan instagramnya. Kami memang tidak dekat, tapi saya selalu ingat sosoknya yang lembut. Dalam hati saya mengucap syukur. Anak ini akhirnya menemukan kembali lelaki yang baik setelah Fatih. After what she’s been through, she deserved the best in life. Fatih pasti juga bahagia melihat Hani menemukan kebahagiaanya yang sekarang.

***

Sore ini saya sedang duduk bersama Puput di daerah Canggu. Ia baru datang siang ini untuk bekerja di Bali. Kami sedang berbicara mengenai rencana kedepan. Rencana yang kerap di interupsi oleh covid. Saya menyeruput sisa es teh di gelas di tangan saya sambil membalas whatsapp dari sepupu saya yang mengabarkan bahwa adiknya positive covid di kampung. Covid memang sedang ganas-ganasnya. Baru tiga haru lalu kawan saya Rika juga mengabarkan bahwa ia sedang isoman karena ia juga positive covid. Di rumah sakit tempatnya bekerja pun pasien covid semakin bertambah setiap harinya.

“Ki, Hani, teman SMA kita baru saja meninggal”

Mata saya masih menatap layar ponsel. Tidak percaya.

“Haninya Fatih?”

“Iya”

****

My heath skipped a bit for you Hani. I still remember your face when you were sitting next to me on your boyfriend’s funeral. I still remember how strong you were that night, even stronger than me. I remember our last trip to Fatih’s graveyard and how you told me that i had to be there cause it was his birthday. I remember me and Wulan were looking at a picture, of you and Fatih when you guys were studying Math in Wulan’s house. How in love you both were. And how in love you both are now. All I can think about when Dea told me that you were gone was the picture of you walking to Fatih and you both sit in a long wooden chair in front of your class under the sign X-7. I can see that now, i can see it clearly now. It isn’t easy to lose you both this soon, but it’s a relief to finally know that you and Fatih are now together again. Side to side. Happy reunion in heaven, Hani and Fatih.

Night Call with Angky Ridayana Podcast on Spotify!

Guys just wanted to let you know that I launched my own podcast on Spotify. Entah kenapa akhir-akhir ini lagi kurang semangat nulis dan lebih rajin ngewawancarain temen-temen sendiri tentang pengalamannya.

Isi podcastnya sekarang-sekarang ini sebenernya mostly tentang pengalaman roadtrip atau pengalaman merantau teman-teman ke beberapa negara dan kisah-kisah sedih, lucu bahkan menyedihkan yang mereka alamin. Itung-itung buat referensi kalian-kalian yang mungkin pengin mengikuti jejak mereka.

So far udah ada 4 cerita yang bisa kalian dengerin

Link Podcastnya bisa dibuka di Spotify dengan nulis ‘Night Call with Angky Ridayana’ atau di tautan berikut

https://open.spotify.com/show/0XbAiBOwuMlhz5VRHYvXRm

Kalau ada yang mau usul untuk obrolan apa yang kalian pengin dengerin sok atuh kasih saran di komen postingan ini. oceee thank you guysss

My remedy (Road Trip Turkey 2021, part 1)

Kalian pernah nggak sih punya temen deket yang paling cocok buat diajak travelling kemana aja?

Satu-satunya orang yang selalu bilang YES sama ajakan nge-trip hemat, kapan saja, ke segala tempat dan medan. Orang pertama yang kalian pikirinin kalo tiba-tiba pengin road trip atau bahkan manjat gunung. Yang nggak keberatan tidur sempit-sempitan sambil jongkok di dalem kapal nelayan atau jalan naik turun 450 anak tangga cuma buat liat air terjun di Bali Utara. Yang juga nggak keberatan disamperin dan diculik dimana aja kalo kalian lagi patah hati cuma buat makan duren di Lembang.

Saya punya satu biji temen yang bukan cuma enak banget dijadikan teman curhat yang nggak judgemental tapi juga asik pake banget buat diajak ngetrip. Namanya Ebby! Beberapa cerita nge trip kami saya tulis di postingan Only in the darkness you can see the stars (Cerita Sahabat dari Selat Sunda) dan Bridal Shower ala Adventurer. Road Trip ke Bali Utara.

Bulan Desember lalu si parter bolang ini menikah dan sebulan kemudian langsung kirim foto test pack dengan hasil positive. Saya tentu saja ikut bahagia kalo si Ebitron ini akhirnya menemukan pasangan yang cocok untuk membangun bahtera rumah tangga dan bentar lagi mau punya little Ebby. Tapi di sisi lain, saya juga sedih karena partner ngebolang saya barangkali untuk beberapa waktu kedepan belum bisa diajak ngetrip dan lompat-lompatan di atap perahu nelayan di Selat Sunda.

***

Sebuah notifikasi muncul di hp saya. Dari Rika sahabatnya Ebby. Tiga tahun lalu saya sengaja terbang dari Bali ke Bandung cuma untuk curhat ke Ebby yang kebetulan lagi ikut marathon 5k di kota kembang itu. Sesampainya di Bandung saya dikenalin sama Rika, sahabat Ebby dari kecil yang juga ikutan lari. Perempuan berambut hitam pajang yang ternyata hobinya juga sebelas dua belas sama saya dan Ebby, suka eksplore gitu lo. Rika ini sebenarnya justru lebih ekspert kalo soal naik gunung daripada saya dan Ebby. Kami yang ngakunya anak gunung tapi kalo disuruh fire dril, naik turun tangga kantor dulu, suka ngosngosan lalu menyalahkan umur. Kalau Rika justru hampir semua gunung di Indonesia pernah ia daki. Bangga nggak? Walaupun saya cuma dikenalin sama Ebby dan baru satu kali ketemu sama Rika, saya merasa ini anak berpotensi menjadi konco kenthel curhat-curhat gemes sekaligus temen ngebolang.

Anyway, Rika sebagai sahabat Ebby dari kecil yang juga mengaggap anak ini adalah mukjizat dari Tuhan (gampang diajak jalan kemana aja) merasakan hal yang sama seperti saya. Waktu Ebby menikah kami berdua galau masal dan menjadi hilang arah karena merasa kehilangan temen yang selalu bilang iya kalo mau traveling hemat, dadakan di medan yang absurd. Bukan kehilangan si, tapi menurut pengakuan teman-teman saya yang sudah menikah, sekarang setiap keputusan yang akan mereka ambil harus dipikir dan diputuskan oleh dua kepala. Termasuk didalamnya rencana traveling bareng teman. Sekarang Ebby harus lebih bijak berdiskusi dengan suaminya kalau mau pergi ngebolang. Nggak bisa seperti dulu main pergi aja semena-mena tanpa diskusi dengan pasangan.

Karena merasa sama-sama kehilangan partner jalan yang tinggal culik, saya dan Rika jadi makin kompak. Intinya ditengah kebingungan ditinggal menikah oleh sahabat tukang jalan, kami sama-sama menemukan. Kami malah jadi sering ajak-ajakan kalo punya plan buat nge trip. Pesan-pesan yang sering saya kirim ke nomor wa Ebby berubah tujuan menjadi ke nomor wa Rika. Begitupula dengan Rika.

“Rik Toraja yuk!”

“Ki aku cuti 4 hari, aku ke Bali ya!”

“Rik gw dapet tiket promo!”

Bulan Februari lalu ketika saya baru saja pulang kampung dan sampai di Bali lagi, Rika mengirim pesan singkat.

“Turki yuk” yang tentu saja tanpa pikir panjang langsung saya balas

“Let’s go!”

***

Bagi orang-orang seperti saya, Rika dan Ebby yang mencintai perjalanan, berpetualang bukan sekedar kegiatan eksplorasi tempat baru di wilayah yang masih asing. Tetapi sebuah perjalanan juga dapat menjadi obat yang ampuh dalam menumbuhkan harapan, menyembuhkan serta merawat kewarasan diri kembali. Apalagi setelah teror ketidakpastian tahun lalu yang telah sukses meluluh lantakkan berbagai macam rencana dan juga harapan. Sebuah perjalanan diharapkan dapat menjadi remedy dari segala macam kekecewaan dan ketidakpastian selama ini. Dibukanya perbatasan Turki untuk kegiatan pariwisata di masa pandemi ini tentu saja adalah sebuah jawaban dari doa-doa kami.

Turki adalah salah satu dari sedikit negara yang membuka bordernya untuk kegiatan pariwisata di masa pandemi ini. Dibukanya border Turki dan izin dari pemerintah Indonesia untuk pergi ke negara tersebut adalah sebuah kesepakatan antara dua negara untuk sama-sama belajar mengaplikasikan cara yang lebih aman agar kegiatan pariwisata bisa tetap dilakukan di tengah pandemi. Tentu saja segala upaya dan peraturan untuk mengurangi resiko penyebaran virus telah diberlakukan. Perjalanan juga dapat dilakukan ketika semua pihak telah memahami serta menerima semua resiko dan konsekuensi yang ada.

Tahun lalu di tengah frustasi dan hilang harap diam-diam saya mulai mengumpulkan dana traveling lagi. Walaupun saat itu rasanya dunia butuh waktu yang lama untuk sembuh dan normal kembali. Saat itu jangankan untuk terbang ke luar negeri, beli ciki ke RT sebelah aja ndak boleh karena lagi lockdown. Tapi saya ternyata masih sedikit semangat menabung kalau-kalau ada kesempatan traveling suatu hari nanti. Setelah menabung dengan khusyuk sambil mengkarantina diri, akhirnya mimpi saya untuk traveling lagi kesampaian. Bukan hanya mimpi terbang lagi ke luar negeri kesampaian, tapi kami juga mendapat tiket promo ke Turki dari Qatar Airways. Kami hanya bayar 900 ribu rupiah untuk tiket pulang pergi per orang dari Jakarta ke Istanbul dan Istanbul ke Jakarta.

Hah kok bisya? Kepo ya pasti!

Jadi ceritanya gini, Qatar Airways memberikan promo #ThankYouHeroes yang membolehkan calon penumpangnya yang berprofesi sebagai tenaga medis terutama dokter untuk membayar tiket seharga 10% dari harga tiket aslinya. Tapi itu juga harus daftar dulu. Program ini adalah bentuk apresiasi dari Qatar Airways karena mereka sudah berjuang di lini terdepan untuk melawan pandemi corona. Nahhh kebetulan si Rika ini profesinya Dokter. Jadilah dia dapat promo tiket itu dan dia bisa ajak satu teman dengan membayar harga yang sama. Dan dia ajak saya, horeeee! Intinya kami berdua cuma bayar 1.8 juta untuk tiket 2 orang ke Istanbul. Lucky us!

Liburan di masa pandemi ini sedikit berbeda dari liburan biasa. Selain berkewajiban untuk melakukan swab test sebelum terbang ke negara tujuan, sebelum berangkat kami juga harus mempersiapkan ekstra protection dari masker dan handsanitiser yang harus selalu ada di tas demi mengikuti protokol kesehatan. Selain itu sekembalinya kami di Indonesia kami juga harus menjalani karantina selama 5 hari di hotel/wisma atlet. Selama karantina kami juga harus di swab 2 kali untuk memastikan kami negative corona. Pokoknya total di swab 4 kali untuk trip kali ini.

***

Dari 1-10 nilai negara yang patut untuk dikunjungi traveler hemat seperti saya. Saya memberi Turki nilai 9. Kenapa? Karena sebelumnya saya nggak pernah tahu kalau ada negara di Eurasia yang bentang alamnya sangat menawan dengan harga yang sangat affordable. Dari harga akomodasi, transportasi hingga makanan. Saya berasa bisa menikmati liburan ala Eropa dengan tetap membayar harga seperti di Asia. Bahkan kalo bisa saya bilang harga-harga makanan restaurant dan hotel di negara ini jauh lebih murah daripada harga-harga di Jakarta. Nggak percaya? Saya akan beberkan satu-satu fakta-fakta unik tentang Turki yang bikin saya terkejoot. Tapi bukan hanya urusan harga yang terjangkau. Negara transkontinental yang beribukota di Ankara ini juga kaya akan sejarah dan budaya yang nikmat banget untuk dijelajahi satu-satu melalui bangunan-bangunan peninggalannya yang ada di berbagai kota di sini. Udah nggak usah basa-basi lagi, bersama saya reporter abal-abal Angky Ridayana, mari kita simak bersama kemantapan Turki dari acara jejak petualang Angky Rika di Turki selama 11 hari.

Sewa mobil untuk road trip

Di Turki, Rika punya teman yang lagi kuliah tourism di sebuah kota bernama Konya. Namanya Farhan yang kebetulan berprofesi sebagai tour guide dan bersedia kami culik untuk road trip bareng keliling Turki. Yesss betcul, kami memilih untuk menyusuri Turki melalui jalur darat karena selain lebih hemat, cara ini juga dirasa lebih aman dan fun di masa corona ini. Kami menyewa sebuah mobil manual untuk 11 hari perjalanan. Yang membuat saya terkejut adalah harga persewaan mobil di Turki ternyata lebih murah dari Bali. Harga yang kami bayar untuk menyewa mobil sedan manual merek Peugeot 301 untuk sebelas hari hanya 121,88 Euro sekitar 2,1 juta rupiah (190 ribu rupiah per hari). Ini mobil juga bukan mobil ecek-ecek, kami justru dikasih pinjem mobil baru tahun 2021 yang kilometernya masih sedikit, mulus pake banget. Kalo yang automatic kayaknya sampe 160 Euro untuk sebelas hari. Btw kami juga beli asuransi mobil yang harganya sekitar 95 Euro yang bikin kami nggak harus bayar apa-apa kalau misalnya ada yang terjadi dengan ni mobil. Tapi asuransi ini sifatnya optional, kalau nggak pake juga nggak papa. Untuk website sewa mobil yang kami pakai waktu itu bisa dicek di : www.pandoracarhire.com.tr

Letak setir mobil di Turki seperti di negara Eropa lainnya, ada di sebelah kiri. Walaupun awalnya kagok kalau yang biasa nyetir di Indo di sebelah kanan, kata Farhan hanya butuh waktu 10 menit saja agar terbiasa nyetir di kiri. Setelah saya coba menyetir ternyata perkataan Farhun benar adanya. Walaupun awalnya tangan reflek nge geplak jendela tiap mau ganti gigi tapi setelah 10 menit terbiasa juga. Anyway nggak perlu buat sim International untuk nyetir disana, kalo punya bagus, tapi kalo nggak punya pakai sim A juga sebenernya cukup karena di sim A kita ada keterangan driving licensenya.

Gini kira-kira penampakan mobilnya. (Bonus gambar walang keket yang menclok di kapnya)

Jalur Road Trip

Jalur road trip selama 11 hari yang kami pilih menurut saran dari Farhun seorang tour guide professional dan Rika yang rajin menonton Youtube adalah sebagai berikut.

Istabul – Safranbolu – Ankara – Konya – Kappadokya – Ercİyes Ski Resort – Antalya – Fethiye – Kaş – Denizli- İzmir- Pamukkale – Ephesus – Alaçatı- Bursa – Istanbul

Kok banyak kaka? Iya dong, kan tujuan road trip adalah bisa muterin banyak kota dan daerah di Turki. Dari Barat, tengah, timur, selatan. Kira-kira gini penampakan rutenya.

I love road trip. There is something about road tripping that is liberating. Behind the wheel deciding when or where you want to go. Stop whenever you want to stop. No train schedule, no need to catch a flight, nothing. Just drive and drive and drive and drive.

Apalagi kalau jalannya bareng teman-teman yang sanada dan seirama. Lengkap sudah. In my case, temen road trip itu wajib untuk suka karaokean dan punya play list yang sama. Kalau yang satu suka nyanyi yang satu nggak atau beda aliran musik bisa jadi kenikmatan road trip akan sedikit berkurang. (Teori ala-ala). Teori ini nggak berlaku untuk semua orang, ada juga yang nggak masalah kalo teman road tripnya suka nyanyi dan dia lebih suka diam. Tapi saran saya kalo mau road trip berhari-hari lebih baik cari teman yang agak nyambung dan candaanya sama. Soalnya kenyambungan adalah koentji. Sebelum konflik menyerang dan cakar-cakaran atau yang lebih parah diem dieman dalam mobil melanda.

Trip Turki adalah road trip paling sukses yang pernah saya lakukan. Karena bukan cuma playlist dan hobi karaoke saya Rika dan Farhun sama, tapi jokes yang kita keluarkan pun sama juga.

Kalau boleh jujur juga, kenapa saya merekomendasikan banget ini negara untuk di road trippin. Bentang alamnya boss, nggak boong. Shockingly amazing. Saya beberapa kali road trip di Australia dari Northern ke Western, East Coast, dari Sydney ke Melbourne, belum ada yang seheboh alam di Turki. Di US pun saya pernah naik bus 10 jam melewati perbatasan Canada, atau dari Belgia ke Jerman yang kalau dibandingin tetap aja Turki yang jadi juaranya! P.s: Ini cuma berdasarkan pengalaman saya saja. Mungkin kalau besok-besok saya dapet kesempatan road trip di negara lain saya bisa merubah pendapat saya. Tapi so far bener nggak boong ini negara amazing banget. Bisa nyetir satu jam melewati salju lebat di perbukitan, tau-tau pemandangan berubah jadi hijau semua, lalu oren, lalu biru. Behenti di setiap kota tua penuh masjid cakep-cakep buat mengunjungi makan Rumi, ke lake tersembunyi yang airnya jernih banget, ke deretan perkebunan cherry, laut biru turquoise di selatan yang sepanjang jalan yang bikin nggak kedip. Akhir bulan Maret ketika kami mengunjungi Turki sebetulnya sudah memasuki musim semi, tapi saat itu salju masih banyak banget, yang lebih uniknya lagi, fenomena ini dibarengi dengan tumbuhnya cherry blossoms di beberapa tempat. Saya dan Rika yang norak ini kegirangan tiap kali lagi nyetir tiba-tiba turun salju lalu lari-lari keliling pohon kek film India. Pokoknya mantulitawati!

Nih poto-poto gemeznya.

Ayer Meyhanesi di Antalya

Selain tukang teriak-teriak dalem mobil, saya, Rika dan Farhan juga tukang makan. Bukan hanya tukang makan, Farhan juga tukang masak yang sudah diakui rasa masakannya oleh warga Indonesia di Turki. Bahkan doi sering disuruh masak di acara-acara KJRI karena katanya pak Dubes doyan masakan bocah ini. Bangga bet gils.

Karena Farhan udah paling lama tinggal di Turki, dia yang lebih sering merekomendasikan restaurant dan tempat makan yang oke. Menunya nggak jauh-jauh dari Kebab, Gozleme, Baklava, sama keju kejuan buat sarapan. Walaupun sama-sama doyan makan banyak, selera kita kadang berbeda. Saya nggak suka makanan manis dengan banyak gula tapi doyan banget makan tomat. Farhan suka banget manis-manisan dan jeruk-jerukan. Rika nggak suka makan daging kambing tapi pemakan segala jenis keju. Saking lamanya barengan terus di jalan, tiap di restaurant seperti sudah terprogram di otak kami kalau ada tomat digeser kedepan saya, kalau ada jeruk digeser ke Farhan kalau ada keju digeser ke Rika. Bukannya kami nggak suka makanan yang disuka dua orang lainnya, tapi rasanya entah kenapa setelah beberapa hari bersama lebih menyenangkan nonton Rika makan keju dan Farhan makan jeruk daripada makan sendiri. Aww road trip bound!

Ada sebuah restaurant yang kami datangi di Antalya, kota yang berada di sepanjang garis pantai Mediterania. Salah satu kota favorit saya. Nama restaurannya adalah Ayer Meyhanesi, catet! Ini enak banget sungguh, kalo kata yucuber di mukbang “Mo meninggoy”. Lokasinya ada di old town nya Antalya yang cantiknya luar biasa. Deretan restaurant dan bar yang berjejer cantik. Saya jadi ingat kota tua di Quebec, Kanada waktu menyusuri barisan restaurant di kota tua di Turki ini. Bedanya harga makanan dan minuman disini jauh lebih masuk akal daripada di Kanada yang tiap buka menu langsung auto-istighfar. Harga makanan di Ayer Meyhanesi masih bisa dibilang terjangkau dengan fasilitas dan rasa yang di dapat menurut saya si worth it banget. Bukan cuma tempatnya cantik, dengan nuansa Santorini, biru putih, dan pool di tengah restaurant, pelayanannya juga ramah banget. Bahkan kami dikasih beberapa makanan gratis seperti Kopi Turki dan buah-buahan. Nggak ini bukan endorse, honest review sunnguh.

Makanan favorit saya selama di Turki cuma satu. Garlic Butter Shrimp. Sekali makan ini di Antalya seterusnya pesan menu yang sama di kota lainnya. Semacam kecanduan. Kata Farhan sebenernya gampang dibuatnya. Nggak terlalu banyak bahan dan cara yang aneh-aneh. Coba di Google dan dibuat sendiri di rumah buat papa mama atau ayang beb. Yuk bisa yukkk!

Monks Valley di Kapadokia.

Sebenarnya datang ke Kapadokia aja udah buat saya kejang saking bagusnya. Nggak pernah saya datang ke sebuah kota dan nggak selesai-selesai kagumnya. Bisa ya kota bentuknya unik gitu. Bangunan dengan formasi kerucutnya yang berkerumunan di Monks Valley ini bikin saya keinget rumah-rumah semut yang ada di belakang rumah Mbah dulu. Dilihat dari bawah aja pemandanganya udah luar biasa cantik, apalagi kalau kalian naik ke view point. Wadaw emezing.

Saya dan Rika dapet kesempatan buat nyobain naik balon udaranya. Lagi-lagi alhamdulilah dapet paket M. Paket misqueen. Harganya lumayan pricey. Tapi hmmmm nggak papa pulang-pulang puasa sebulan, karena Yassalaammm cakep bangett. Saya langsung berasa jadi Sherina di video klip balon udara nyanyi nyanyi syantix.

“Langit biru, awan putih, terbentang indah lukisan yang kuasa. Kumelayang, di udara, terbang dengan balon udarakuuuuu. Oh sungguh senangnya lintasi bumi, ooh indahnya dunia”

gitu.

Di Kapadokia kami menyewa sebuah kamar di cave hotel bernama Ascension Cave Suites. Biar berasa di cave gitu. Harganya buat kamar yang ada dua ruangan dan 2 bed, yang satu Queen size yang satu single buat Farhun, Rp.525.000 pake sarapan buffet dengan pemandangan balon udara. Lebih murah daripada di Bali kalo bisa saya bilang. Walaupun murah dan pemandangan bagus, kamar kami berada di lantai paling bawah. Jadi dekat dengan central heater yang bikin kamarnya panas bukan main kek hell. Ada AC, tapi karena belum masuk summer jadi AC nya nggak boleh dinyalain. Rika yang memang suka di tempat panas fine-fine aja. Katanya ini normal temperaturnya. Saya yang masih sodaraan sama Elsa dari Frozen harus keluar tiap malem duduk di depan hotel pake kaos dan celana pendek di temp -3 derajat celcius sampe menggigil dulu baru masuk ke dalem dan tidur.

Hal yang paling saya senangi ketika di Kapadokia jujur saja bukan waktu kami naik balon udara. Tapi ketika suatu pagi kami bangun untuk hiking valley valley terjalnya itu. Rika memutuskan untuk pake kebaya merah untuk menghormati Kartini dan semua perempuan kuat di seluruh penjuru dunia. Bukan pemandangan valley di Kapadokia yang buat saya senyum-senyum sendiri. Tapi liat Rika naik turun bukit dengan lincahnya pake kebaya yang buat saya mesam-mesem. I recently sent a video of her running in a steep valley and said

“If anyone ever makes you forget how brave and strong you are, watch this video again”

Saya diam-diam berdoa untuk kebahagian Ebby dan berterimakasih padanya. Karena bukan hanya temen lompat-lompatan di atas kapal nelayan tengah malem yang saya punya sekarang, saya juga punya tambahan teman yang suka lompat-lompatan pake kebaya di lembah-lembah terjal. Bukan hanya mereka mau nemenin saya lompat-lompatan di alam nyata tapi mereka mereka ini juga yang mau duduk dengerin saya curhat sambil nyeruput ice latte kalau giliran emosi saya yang suka lompat-lompatan seenaknya.

And finding these special friends who can do both is a blessing.

By the way guys, masih banyak banget cerita road trip di Turki ini, tapi sekarang sudah malam ikan bobo. Besok-besok saya lanjutin lagi ya untuk part 2 nyaa… In the meantime… Have a gooddd night!!!

The river

I was driving south to Antalya

Passing down the busy roads and empty hills

Out of the sudden

I found a river

With a turquoise-blue stream burbles as it travels through the forest

The branches of the trees were dancing with the wind

The limestones were giggling on each step I took

Purple pink sky was smiling above me

The water is both deep and shallow

The complete silence of the wilderness 

washed away all the thoughts about the world

The pain and the hurt, the terror and the abuse

The loneliness and worthlessness 

The liars and the cheaters

The traitors and the backstabbers

All disappeared

I want to be bury here

In a small meadow in the woods

Lay my head down and close my eyes forever

In a place hidden far away

Under the pine trees where i feel

Safe and sound

Where I can forget 

The tender life 

I never had 

Where I can finally tell my depression

I don’t want to fight anymore

You win.